Iklan Layanan Masyarakat

BMKG: Musim Kemarau Tahun 2023 Lebih Kering

Jumat, 27 Jan 2023 20:23:36 37737

Keterangan Gambar : BMKG: Musim Kemarau Tahun 2023 Lebih Kering


Temanggung, Media Center - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di tahun 2023 lebih kering dibandingkan dengan periode tiga tahun terakhir (2020-2022). 

Kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan 3 tahun terakhir ini mengakibatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akan semakin mudah terjadi. Sehingga pencegahan harus dilakukan sejak dini sebagai bentuk antisipasi.

"Kalau tiga tahun terakhir ini saat musim kemarau masih sering terjadi hujan, maka di tahun ini, intensitas hujan akan jauh menurun," ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers di Jakarta, Jum'at (27/1/2023). 

"Kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama daerah-daerah yang selama ini masuk dalam kategori rawan Karhutla seperti di Sumatera dan Kalimantan," tambahnya. 

Dwikorita membeberkan, berdasarkan hasil monitoring BMKG, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, saat ini menunjukkan intensitas La Nina yang terus melemah dengan indeks per Januari 2023 dasarian pertama sebesar -0,80 dan pada dasarian kedua adalah sebesar -0.65. 

Kondisi La Nina ini, diprediksi akan terus melemah dan beralih menuju kondisi ENSO (El Nino-Southern Oscillation) Netral pada Februari-Maret 2023. Kondisi ENSO Netral diprediksi akan terus bertahan hingga pertengahan tahun 2023.  

Sedangkan untuk semester kedua tahun 2023 yang akan datang, lanjut Dwikorita, terdapat peluang sekitar 40-50% kondisi ENSO Netral akan bertahan hingga akhir tahun. Di sisi lain, juga terdapat peluang yang relatif sama, bahwa kondisi ENSO Netral akan berkembang menjadi El Nino lemah, terutama setelah periode Juni-Juli-Agustus 2023. 

"Berdasarkan catatan sejarah masa lalu, El Nino kategori lemah yang terjadi setelah pertengahan tahun umumnya berlangsung dengan durasi yang pendek," imbuhnya. 

"Hal ini senada dengan hasil konsensus para ahli iklim dari BMKG, ITB, IPB dan BRIN dalam National Climate Expert Forum (NCEF) yang dilaksanakan oleh BMKG, 27 Januari," tambahnya.

Dwikorita menyebut, Oktober 2022 lalu, BMKG merilis bahwa saat itu dunia sedang mengalami fenomena iklim yang disebut Triple-Dip La Nina, yaitu kejadian La Nina yang berlangsung secara berurutan selama tiga tahun. Kondisi tersebut umumnya memberikan dampak terhadap relatif tingginya curah hujan pada tiga tahun terakhir. 

Dwikorita menambahkan, hingga enam bulan ke depan, BMKG memprediksi bahwa curah hujan bulanan akan didominasi oleh kategori normal. Meskipun, secara volume curah hujan bulanan tahun 2023 ini relatif menurun dibandingkan curah hujan bulanan selama tiga tahun terakhir.

Adapun curah hujan bulanan kategori di atas normal berpeluang terjadi di Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian timur dan utara pada Februari dan Maret 2023, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Maluku dan Maluku Utara pada Februari 2023 dan Papua bagian tengah dan selatan pada Juni 2023. 

Sedangkan curah hujan kategori bawah normal berpeluang terjadi di sebagian Sumatra bagian tengah, sebagian Kalimantan bagian tengah, sebagian Sulawesi bagian tengah dan sebagian kecil Papua pada Februari-Maret 2023 dan sebagian besar Sumatera dan Jawa pada Mei dan Juni 2023. 

Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dodo Gunawan mengatakan, bahwa pada bulan Maret-April-Mei 2023 ini beberapa wilayah di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara akan mengalami periode transisi atau peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau. 

Pada periode peralihan musim ini, kata dia, Pemerintah Daerah dan masyarakat perlu mewaspadai kemunculan fenomena cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, angin puting beliung, petir, dan angin kencang. Menurutnya, meskipun periodenya singkat namun tidak jarang memicu terjadinya bencana hidrometeorologi. 

"Kewaspadaan yang lebih tinggi perlu dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau yang diprediksikan lebih kering atau dengan jumlah curah hujan yang lebih rendah dibandingkan pada 3 tahun belakangan, karena kondisi La Nina yang telah netral atau bahkan berubah menjadi El Nino Lemah," pungkasnya. (MC.TMG/fr;ekp;ysf)

Pencarian:

Komentar:

Top