Iklan Layanan Masyarakat

Gusemar, Kreasi Gula Semut Aren dengan Berbagai Varian Rasa

Selasa, 24 Jan 2023 16:58:03 68

Keterangan Gambar : Gusemar, Kreasi Gula Semut Aren dengan Berbagai Varian Rasa


Temanggung, Media Center – Mu’iyah (39), salah satu petani gula aren Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Temanggung membuat kreasi dengan mengolah gula arennya menjadi gula pasir yang dinamakan Gula Semut Aren (Gusemar). Gula aren yang pada umumnya berbentuk bulat tempurung kelapa atau batok, oleh tangan Mu’iyah bersama suami diubahnya menjadi selayaknya gula pasir.

Dalam sehari, paling banyak Mu’iyah dapat menghasilkan 12 kg gula semut aren dari 150 liter air nira. Namun, jika dijadikan gula aren batok dari 150 liter air nira dapat dihasilkan lebih dari 15 kg, tergantung kualitas nira itu sendiri. Pemasaran Gusemar sudah merambah ke luar wilayah Kabupaten Temanggung, diantaranya Yogyakarta, Jakarta hingga ke luar Pulau Jawa dengan kisaran harga Rp 15.000,00 per 250 gram.

“Ya memang buat ekonomi anak sekolah, ya ada kemajuan, karena harga jual gula semut lebih tinggi dibanding gula batok,” ungkapnya.

Diceritakan, usaha gula semut sudah dimulainya sejak tahun 2017 dengan satu varian rasa, yaitu original. Selang waktu berjalan, di tahun 2019 Mu’iyah berinovasi kembali membuat varian Gusemar dengan 4 rasa, yakni rasa jahe, temulawak, kunyit, dan kunyit asem. Hingga saat ini, proses pembuatan, baik gula semut, maupun gula batok masih menggunakan cara manual.

“Kendalanya tergantung air nira itu tadi. Jika air niranya tidak bagus, gula semutnya tidak jadi. Kalau dari segi penjualan, naik turun, karena kalau jualan itu kan tidak setiap hari orang mau beli. Tapi kalau gula batok setiap hari pasti ada yang beli, meskipun hanya 10 kg,” imbuh Mu’iyah.

Kendala lain, yaitu dalam pengiriman gula batok ke luar kota. Berhubung proses pembuatan gula batok dan gula semut masih alami dan tidak menambahkan bahan pengeras buatan, gula akan dapat mudah mencair, karena terkena suhu panas dalam perjalanan. Hal tersebut biasanya dialami oleh produk gula batok. Untuk gula semut justru lebih awet, karena kadar airnya yang tidak ada.

Mu’iyah berharap, agar produksi Gusemar bisa lebih berkembang dan mendirikan rumah produksi sendiri lengkap dengan mesin produksi gula semut. Dengan demikian, diharapkan juga dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat setempat. (MC.TMG/wll;chy;ilm;ekp;ysf)

Pencarian:

Komentar:

Top