Iklan Layanan Masyarakat

Ritual Pengawinan Air di Peringatan Tri Suci Waisak Desa Cemoro
Umum Sosial Kebudayaan Dan Pariwisata Pendidikan Ekonomi INSANIF PUSKOMKREF Sistem Informasi Desa (SID) PPID STATISTIK INFORMATIKA KOMUNIKASI KOMINFO Agenda OPD SEPUTAR TEMANGGUNG BERITA NASIONAL hoax terkini


admin 21 Jun 2019 79
Blog single photo

Temanggung, Media Center – Kamis, (20/6). Masyarakat serta umat Budha mengikuti perayaan Tri Suci Waisak di Desa Cemoro, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung. 
Gunungan hasil bumi dan patung Budha disemayamkan di bangunan yang ada di bawah pohon cemara tua yang dipercaya sudah berumur ratusan tahun di desa tersebut.
Peringatan Tri Suci Waisak diikuti Umat Budha dari Desa Cemoro dan juga umat dari beberapa kecamatan yang ada di Temanggung yaitu dari Kecamatan Wonoboyo, Bejen dan Candiroto, 
Perayaan Waisak ini dilaksanakan secara bergiliran sebagai tuan rumah dari gabungan tiga kecamatan, untuk perayaan di Desa Cemoro ini didatangkan kelompok seniman Jati Sunda dipimpin oleh Sangga Sundana Permana atau akrab dipanggil Kang Asep, dengan menampilkan tarian jiwa dalam kesenian Tarawangsa.
Patung Budha dan gunungan hasil bumi kemudian dikirab dari pohon cemara yang ada di tengah perumahan penduduk menuju Vihara Virya Damma Rata, yang berjarak sekitar lima ratus meter dari cemara tua.
Menurut Mettiko selaku panitia  Perayaan Tri Suci Waisak merupakan gabungan dengan kegiatan sedekah bumi yang akan menjadi kegiatan tahunan untuk tahun-tahun mendatang.
“Rangkaian sedekah bumi sudah dilakukan sejak malam sebelum acara prosesi kirab, ada juga kegiatan pengawinan air, antara mata air dari tujuh sumber mata air di Tanah Pasundan dengan sumber mata air desa setempat, sedangkan saya membawa air dari Umbul Jumprit” ujar Mettiko.
Filosofi ritual pengawinan air adalah bentuk pengingat bahwa air merupakan sumber kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.
Sedangkan Kristiwanto selaku Kepala Desa Cemoro, mengatakan mengenai toleransi yang telah terpelihara sejak dahulu. “Keberagaman sudah sejak lama terdapat dan selalu berdampingan tanpa ada kendala apapun, bahkan dalam satu keluarga ada yang memeluk tiga agama sekaligus, itu membuktikan bahwa toleransi dan saling menghormati keyakinan begitu besar,” ungkapnya.
Untuk Sedekah Bumi akan tetap dilaksanakan di Desa Cemoro setiap tahunnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga untuk selalu mengingat pentingnya menjaga sumber kehidupan, bukan hanya untuk saat sekarang, tetapi untuk kelangsungan kehidupan untuk generasi yang akan datang.  

 (MC TMG / Penulis/Foto : Coeplistyo / Editor :Ekape)

Recent Comments

Tinggalkan Komentar

Top