Iklan Layanan Masyarakat

Tingkatkan Literasi dengan Gerakan Santri Menulis

Rabu, 13 Apr 2022 17:16:24 626

Keterangan Gambar : Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung bekerjasama dengan harian Suara Merdeka mengadakan kegiatan Gerakan Santri Menulis (GSM), Santri Melawan Hoax di Aula Lt.3, Gedung Rektorat INISNU, Rabu (13/4/2022).


Temanggung, MediaCenter - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung bekerjasama dengan harian Suara Merdeka mengadakan kegiatan Gerakan Santri Menulis (GSM), Santri Melawan Hoax di Aula Lt.3, Gedung Rektorat INISNU, Rabu (13/4/2022).

Hadir dalam acara ini, Bupati Temanggung yang diwakili Kabag Kesra Setda, Herman Santoso, Rektor INISNU Muh Baehaqi, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YaptiNU) Temanggung Nur Makhsun, perwakilan pemimpin redaksi harian Suara Merdeka Agus Fachrudin Yusuf dan tamu undangan.

Adapun peserta Gerakan Santri Menulis dari kalangan santri pondok pesantren se-Kabupaten Temanggung, mahasiswa, dan masyarakat umum. 


Herman Santoso membacakan sambutan Bupati Temanggung, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Suara Merdeka yang secara konsisten selama 28 tahun menyelenggarakan Gerakan Santri Menulis.

"Tradisi budaya menulis di kalangan ulama, kyai, santri di pondok pesantren, dan juga mahasiswa, semakin luntur tergerus oleh situasi, ini sebuah situasi yang memprihatinkan, mengatasi masalah tersebut sangat dibutuhkan untuk membangunkan kembali semangat menulis. Menulis terkadang menimbulkan multi persepsi bagi pembacanya, menulis membutuhkan pengetahuan dan keahlian yang memadai, terlebih penulisan jurnalistik," katanya.

Ditambahkannya, semoga kegiatan Gerakan Santri Menulis yang diprakarsai Suara Merdeka di bulan Ramadhan merupakan usaha yang luar biasa, kegiatan ini mendapat berkah, lancar dan sukses, serta menghasilkan penulis yang berasal dari lingkungan pondok pesantren, yang sudah mempunyai dasar etika moral yang baik.

"Untuk menjadi penulis yang baik, tentu juga harus menjadi pembaca yang baik, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas, serta mempunyai etika diri," imbuhnya.

Nur Makhsun mengungkapkan, mengaji kitab itu hasil karya tulis, hasil literasi, sekalipun dekat dengan medsos harus dipergunakan untuk hal yang positif.

"Saya sangat mendukung kegiatan literasi ini, menulis, tradisi menulis ini adalah tradisi pesantren, gedung pasca sarjana yang baru kita bangun, akan kita lengkapi gedung perpustakaan, yang menyimpan manuskrip karya-karya agung dan pendiri NU, khususnya NU Temanggung. Karyanya Mbah Hadi Sofyan dan Mbah Mandur, NU itu modalnya optimis, dengan bekerja sama Suara Merdeka kita akan menggali mozaik NU, memberikan ghirah semangat menulis, mentradisikan karya tulis di kalangan santri, maka santri tidak hanya pandai berpidato, tapi juga pandai berliterasi menulis karya tulis yang bisa mempengaruhi masyarakat dengan positif," ungkapnya.

Agus Fachrudin Yusuf menerangkan, ilmu jurnalistik mendapat tantangan dari media sosial, yang informasinya melupakan tabayun dan kroscek, berita hoak dan ujaran kebencian yang dihasilkan.

Inspirasi kegiatan ini dari KH Maemun Zubair dan KH Mustofa Bisri menyarankan Suara Merdeka, turun dan mengajarkan santri menulis dengan baik, dan hasilnya positif bagi masyarakat.

"Temanggung ini Bupatinya istimewa yang baru dilantik menjadi pengurus PBNU, ini putaran ke-8, kami mau sowan ke-17 pondok pesantren di setiap kabupaten se-Jawa Tengah, sesungguhnya Gerakan Santri Menulis ini bisa full satu bulan Ramadhan, kami juga mengajak Unissula dan Unwahas. Hari ini para santri tidak dibutuhkan kompetisi, tapi yang dibutuhkan kolaborasi, sehingga terjadi kesepakatan yang saling menguntungkan, kita harus membukukan karya literasi dari kyai sepuh tersebut, karena itu karya tulis yang patut dilestarikan dan dipelajari oleh santri dan masyarakat," pungkasnya. (MC.TMG/sty;ekp)

Pencarian:

Komentar:

Top