Iklan Layanan Masyarakat

Tedhak Sinten, Tradisi Jawa Agar Anak Sukses di Masa Depan

Senin, 14 Mar 2022 17:38:11 1170

Keterangan Gambar : Masyarakat Jawa mengenal berbagai tradisi atau ritual yang dilakukan oleh orang tua untuk sang buah hati agar diberi keselamatan, kesehatan dan kesuksesan, salah satunya adalah tradisi “Tedhak Siten” atau masyarakat Kabupaten Temanggung biasa menyebutnya dengan istilah “Dun-Dunan”.


Temanggung, MediaCenter - Masyarakat Jawa mengenal berbagai tradisi atau ritual yang dilakukan oleh orang tua untuk sang buah hati agar diberi keselamatan, kesehatan dan kesuksesan, salah satunya adalah tradisi “Tedhak Siten” atau masyarakat Kabupaten Temanggung biasa menyebutnya dengan istilah “Dun-Dunan”.

Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri, Rizal Ivan Chanaris (31) dan Istianah (29), Warga Dusun Tanjung, Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo yang menggelar ritual tedhak sinten untuk anak keduanya, Borneo Chanaris, Minggu (13/3/2022 ) di rumahnya.
 
Terdapat beberapa fase atau tahapan dalam ritual tersebut. Pada tahap pertama, anak akan dituntun untuk berjalan di atas tujuh jadah dengan tujuh warna, yakni coklat, merah, kuning, hijau, ungu, biru, dan putih. Tahap kedua, anak dibimbing menaiki tangga yang dibuat dari tebu sebagai simbol dari jenjang kehidupan, tebu yang kependekan dari antebing kalbu bermakna keteguhan hati.

Pada tahap selanjutnya, anak akan dibiarkan mencakar-cakar tanah dengan kedua kakinya sebagai harapan agar kelak saat dewasa si anak mampu untuk mengais rezeki.Di tahap keempat, anak dimasukkan dalam kurungan ayam yang telah diberi beraneka benda, seperti uang, mainan, alat musik, buku, atau makanan. Benda yang nantinya dipilih sang anak menggambarkan potensi anak tersebut. 

Tahap kelima, anak akan diberi uang logam dengan berbagai macam bunga dan beras kuning oleh sang ayah dan kakek sebagai lambang dan harapan supaya anak diberkahi rezeki yang melimpah, tetapi tetap memiliki sifat dermawan.

Tahap selanjutnya, anak dimandikan dengan air yang telah dicampur kembang setaman. Langkah ini sebagai harapan agar si anak mampu membawa nama baik bagi keluarganya.

Yang terakhir adalah proses pemakaian baju yang bagus dan bersih supaya anak bisa menjalani kehidupan dengan baik.

Sang ayah, Rizal, mengaku selain untuk merawat atau nguri-nguri adat jawa, dengan ritual ini buah hatinya kelak bisa menjadi orang sukses, bisa membawa kebaikan buat keluarga, lingkungan dan bangsa dan negara.
“Memang menjadi janji kami selaku orang tua untuk mengelar tedhak sinten, untuk segala sesuatu kami siapkan sekitar seminggu, tentunya dengan minta petunjuk sesepuh desa dan orang tua kami,” terangnya.

Sementara, salah seorang pemangku tradisi asal Desa Tanjungsari, Zaidah (58), mengungkapkan, tedhak siten sendiri secara harfiah merupakan sebuah prosesi menginjakkan kaki ke tanah untuk pertama kalinya pada bayi dengan harapan agar mereka tidak kaget, jika kelak sudah mampu berjalan sendiri.
 
“Masyarakat Jawa kan memiliki sejarah tradisi yang kuat. Mereka menggunakan simbol-simbol sebagai perlambang akan sebuah harapan tertentu,” tandasnya. (MC.TMG/dn;ekp)

Pencarian:

Komentar:

Top