Iklan Layanan Masyarakat

Nyadran Simbah Kyai Jampi Bertajuk Persatuan dan Persaudaraan

Rabu, 08 Mar 2024 08:41:41 405

Keterangan Gambar : Nyadran Simbah Kyai Jampi Bertajuk Persatuan dan Persaudaraan


Temanggung, Media Center – Mendekati Bulan Suci Ramadan, beberapa tempat di penjuru Kabupaten Temanggung menggelar acara adat Sadranan atau Nyadran.

Sadranan tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pedesaan, tetapi masyarakat di wilayah kota juga masih melestarikan tradisi yang ditinggalkan oleh para leluhur, salah satunya masyarakat Kelurahan Jampiroso, Kecamatan/Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (8/3/2024).

Sadranan merupakan tradisi leluhur yang mempunyai makna membersihkan diri, saling memaafkan antar sesama sebelum memasuki bulan Ramadan, serta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang sudah diberikan.

Ketua Panitia yang juga termasuk tokoh masyarakat di RW 04 Kelurahan Jampiroso, Joko Cahyo mengatakan, bahwa tradisi ini dilakukan setiap bulan Ruwah atau bulan Sya’ban di hari Jumat Wage. 

Joko menjelaskan, bahwa tradisi ini, untuk meningkatkan persatuan, kebersamaan antar umat beragama dan juga antar warga.

“Sementara ini baru berjalan tiga tahun. Untuk pengisian doa dari Nasrani dan juga dari Islami. Tetapi sebelum tiga tahun yang lalu memang murni dari umat muslim saja yang melaksanakan,” ungkapnya.

Terkait dengan sejarah Mbah Jampi memang belum terkuak sepenuhnya, hanya saja masyarakat meyakini, bahwa adanya Jampiroso itu ada peran dari Kyai Jampi dan Nyai Jampi. Menurut sumber yang diterima, Kyai Jampi merupakan seorang tabib yang mengolah jamu-jamuan untuk menyembuhkan suatu penyakit, baik medis, maupun penyakit pikiran atau hati (rasa). 

Atas dasar hal itu, masyarakat membuat pemukiman di lokasi tersebut dan menyebutnya dengan nama Jampiroso sebagai ungkapan terima kasih, karena telah mengobati penyakit hati dengan jamu-jamuan yang diraciknya.

Lurah Jampiroso, Siyami mengatakan, bahwa tradisi Nyadran Kyai Jampi atau Simbah Kyai Jampi yang dilakukan Kelurahan Jampiroso, khususnya RW 04 tersebut dilakukan setiap bulan Sya’ban menjelang bulan Ramadan. Selain untuk merekatkan tali silaturahmi, masyarakat juga mendoakan kepada leluhur, yaitu Kyai Jampi dan Nyai Jampi sebagai ucapan terima kasih atas jasanya dalam membuka alas atau hutan yang sekarang sudah menjadi pemukiman padat penduduk.

“Marilah kita melaksanakan ibadah puasa ini dengan khusyuk dan sungguh-sungguh. Saling menghormati diantara kita, meskipun ada beberapa diantara kita tidak berpuasa,” harap Lurah Jampiroso. (Cahya;Ekape)

Pencarian:

Komentar:

Top