Ket [Foto]:
Puasa Tak Surutkan Semangat! Atlet Silat Temanggung Bidik Emas di Popda dan Kejuaraan Nasional
Temanggung, MediaCenter – Jarum jam baru menunjuk pukul 15.30 WIB ketika satu per satu atlet silat memasuki gedung Balai RW di sudut Kabupaten Temanggung. Di luar, angin sore berhembus lirih. Langit tampak cerah, dan matahari perlahan bersiap tidur di ufuk barat.
Di dalam gedung sederhana itu, tak ada tanda-tanda lelah, meski mereka tengah menjalani ibadah puasa Ramadan. Suara hentakan kaki, aba-aba pelatih, dan napas yang teratur menjadi irama yang mengisi ruang latihan.
Puasa bukan alasan untuk berhenti. Justru di bulan inilah mental mereka ditempa.
Pelatih silat, Dadang Adi Nugroho, mengatakan latihan tetap berjalan seperti biasa dengan sedikit penyesuaian agar kondisi atlet tetap terjaga.
“Tujuan utama latihan ini untuk persiapan Popda. Selain itu juga menjaga konsistensi agar mereka selalu siap bertanding dalam kondisi apa pun,” ujarnya saat ditemui di sela-sela latihan, Jumat (27/2/2026) sore.
Jadwal latihan tidak berubah, tetap tiga kali dalam sepekan: Rabu, Jumat, dan Minggu. Jamnya pun sama. Hanya saja, waktu istirahat diperbanyak agar fisik tidak terkuras berlebihan.
Gerakan demi gerakan teknik diperagakan dengan serius. Tendangan, tangkisan, hingga kombinasi serangan dilakukan berulang. Keringat mulai membasahi dahi, namun semangat tetap menyala.
Bagi Anisa, salah satu atlet andalan, latihan sore hari justru terasa seperti ngabuburit yang produktif.
“Saya latihan sambil menunggu berbuka. Jadi sekalian olahraga dan tetap fokus,” katanya sambil tersenyum.
Prestasinya bukan main-main. Ia pernah meraih medali emas di Kemenpora International Championship, serta Popda Provinsi Jawa Tengah.
Hal senada disampaikan Raisa Bellvania Nurjannah, yang tahun lalu meraih juara tiga dalam ajang Asian Championship di TMII Jakarta. Ia optimistis, dengan disiplin dan kerja keras, Temanggung bisa kembali bersinar di tingkat nasional, bahkan internasional.
Menjelang azan magrib, latihan biasanya diakhiri dengan pendinginan ringan. Wajah-wajah lelah berubah menjadi lega saat waktu berbuka tiba. Tegukan air pertama menjadi hadiah kecil setelah dua jam berlatih dalam keadaan berpuasa.
Di gedung Balai RW yang sederhana itu, mimpi-mimpi besar sedang dirawat. Senja di Temanggung bukan hanya tentang matahari yang tenggelam, tetapi tentang semangat anak-anak muda yang tak ikut padam.
Mereka membuktikan, puasa bukan penghalang untuk berprestasi. Justru menjadi ruang latihan kesabaran, ketahanan, dan tekad—demi satu tujuan: membawa pulang emas untuk Temanggung. (Aiz;Ekp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook