Ket [Foto]: Nyadran Kyai Kramat, Jejak Syukur yang Terjaga di Rindang Hutan Cemara
Nyadran Kyai Kramat, Jejak Syukur yang Terjaga di Rindang Hutan Cemara
Temanggung, MediaCenter – Matahari kian meninggi, menebarkan cahaya hangat di lereng Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Temanggung, Jumat (26/6/2026). Satu per satu warga melangkah pelan menyusuri jalan tanah separuh berbatu yang membelah rimbunnya hutan cemara.
Di pundak, mereka memikul tenong berisi nasi tumpeng, ingkung ayam jawa, aneka masakan tradisional, hingga jajanan pasar. Namun, yang sesungguhnya mereka bawa bukan sekadar hidangan, melainkan rasa syukur, harapan, dan doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta.
Tujuan mereka hanya satu, kompleks pemakaman Kyai Kramat. Di bawah naungan pepohonan cemara yang menjulang teduh, ribuan warga kembali menghidupkan Nyadran, sebuah tradisi yang telah diwariskan lintas generasi. Keheningan alam berpadu dengan lantunan doa, menghadirkan suasana khidmat yang seolah menyatukan manusia, alam, dan para leluhur dalam satu ikatan batin.
Warga dari delapan dusun berkumpul tanpa sekat. Mayoritas merupakan petani kopi yang menggantungkan hidup di lereng pegunungan dengan tanah yang tak selalu ramah bagi pertanian. Bagi mereka, Nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ungkapan syukur atas rezeki yang telah diberikan, sekaligus permohonan agar musim tanam dan panen berikutnya membawa keberkahan.
Tradisi yang digelar setiap tanggal 10 bulan Suro dalam penanggalan Jawa itu juga menjadi ruang temu bagi keluarga dan kerabat. Mereka yang merantau pulang ke kampung halaman, melepas rindu, mempererat persaudaraan, dan kembali menyambung ikatan yang telah dirawat para leluhur.
Tokoh masyarakat Desa Tlogopucang, Mutajir (54), menuturkan, Nyadran Kyai Kramat merupakan warisan budaya yang terus dijaga masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah Jaelani, yang diyakini sebagai lurah kedua Desa Tlogopucang, sekaligus tokoh yang berjasa dalam sejarah desa.
"Sebagian besar warga di sini adalah petani kopi. Melalui Nyadran kami bersyukur atas rezeki yang diberikan, sekaligus memanjatkan doa agar diberikan keselamatan, kesehatan, dan hasil panen yang lebih baik," ujarnya.
Menurut Mutajir, tradisi tersebut diikuti warga dari seluruh delapan dusun dengan jumlah peserta yang setiap tahun mencapai lebih dari seribu orang. Selain membawa nasi tumpeng, masyarakat juga membawa berbagai hidangan, termasuk ingkung ayam jawa, yang didoakan sebelum disantap bersama sebagai lambang rasa syukur.
Usai doa dipanjatkan, tenong-tenong dibuka. Aroma masakan tradisional memenuhi udara hutan cemara. Warga duduk bersila di atas tikar, saling berbagi hidangan, cerita, dan tawa. Tak ada perbedaan kedudukan. Semua larut dalam kebersamaan yang telah diwariskan oleh waktu. Gotong royong, kerukunan, dan penghormatan kepada leluhur menjadi nilai yang hidup, bukan sekadar dikenang.
Bagi warga Tlogopucang, Nyadran Kyai Kramat bukan hanya ritual adat. Di balik rindangnya hutan cemara, tradisi itu menjadi penanda, bahwa hubungan manusia dengan Tuhan, alam, leluhur, dan sesama harus terus dijaga. Sebab di sanalah akar kehidupan bertumbuh, dan dari sanalah kearifan lokal menemukan maknanya.
"Ada kearifan lokal yang harus dipertahankan, meski zaman terus berjalan," kata warga lainnya, Zudin. (Aiz;Ekp)







Tuliskan Komentar anda dari account Facebook