Bupati Agus Setyawan Apresiasi Konsistensi Lansia Jaga Tradisi Suluk Suro di Ponpes Mujahidin
Ket [Foto]: Bupati Agus Setyawan Apresiasi Konsistensi Lansia Jaga Tradisi Suluk Suro di Ponpes Mujahidin

Bupati Agus Setyawan Apresiasi Konsistensi Lansia Jaga Tradisi Suluk Suro di Ponpes Mujahidin

Temanggung, MediaCenter - Bupati Agus Setyawan, mengaku sangat bahagia melihat antusiasme masyarakat lanjut usia (lansia) yang istikamah menimba ilmu (ngangsu kawruh), serta menjaga wasiat keagamaan para ulama sepuh pendahulu.

?Ratusan jamaah tersebut datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru wilayah untuk mengikuti Suluk (Khalwat) Suro (Muharram) yang berlangsung dari tanggal 1 sampai 10 Suro di Pondok Pesantren Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Mujahidin, Kabupaten Temanggung.

?Tradisi penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) ini merupakan amaliyah yang sudah konsisten berjalan lintas generasi di Ponpes TQN Mujahidin yang terletak di Jalan Mujahidin, Kauman, Giyanti, Kecamatan Temanggung.

?Estafet tradisi ini dijaga mulai dari zaman pendiri pondok, Simbah K.H. Mandhur—seorang ulama kharismatik, sekaligus tokoh perjuangan Barisan Bambu Runcing Parakan—kemudian diteruskan oleh putranya, K.H. Achmad Bandanudji, hingga kini dirawat oleh K.H. Musa Effendy dan Gus Noor Muhammad Ayyub.

?"Saya nderek mangayubagya (ikut berbahagia), panjenengan semua ternyata masih berkenan untuk melanjutkan dan istikamah menjalankan apa yang dahulu diwasiatkan oleh Simbah Mandhur. Majelis seperti ini adalah majelis yang sangat luar biasa, karena mengarahkan kita semua agar bisa selamat di dunia, maupun di akhirat," tutur Bupati Agus, yang didampingi sang istri, Panca Dewi, Rabu (24/6/2026).

?Bupati Agus juga sempat bernostalgia dan membagikan kedekatan emosionalnya.

"Sejak masih kecil dulu, saya sering diajak oleh simbah putri saya kalau kebetulan mampir ke daerah sini. Makanya, saya pun di sini masih sama-sama belajar dari Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian," imbuhnya seraya menunjuk deretan kamar santri.

?Pengasuh Ponpes TQN Mujahidin, Gus Noor Muhammad Ayyub, menjelaskan, bahwa mayoritas peserta Suluk merupakan jamaah berusia 50 tahun ke atas. Mereka berniat untuk nyepi atau mengasingkan diri dari kesibukan duniawi sementara waktu demi mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

?"Suluk Muharram ini esensinya berfokus pada pembersihan hati dari sifat tercela, serta melakukan muhasabah (introspeksi diri). Hubungan ruhani dengan mursyid dalam tradisi TQN ini menjadi pilar penting untuk membimbing perjalanan spiritual jamaah," jelas Gus Ayub. (Adt;Istw;Ekp)

Bupati Agus Setyawan Apresiasi Konsistensi Lansia Jaga Tradisi Suluk Suro di Ponpes Mujahidin
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook