Ket [Foto]:
Rintik Hujan, Sepotong Tumpeng dan Simbol Gotong Royong Bupati Agus Setyawan di Jembatan Bailey Plosogaden
Temanggung, MediaCenter - Rintik hujan yang sempat membasahi Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto, Temanggung pada Rabu (24/6/2026) siang tak sedikit pun melunturkan senyum warga. Di bawah naungan terpal biru yang membentang bak tenda darurat, kehangatan itu justru semakin terasa. Mereka duduk bersila, beralaskan tikar dan hamparan daun pisang di atas lantai besi sebuah jembatan bailey berkelir hijau militer. Tepat di tengah-tengah mereka, lima pucuk nasi tumpeng kuning berdiri menjulang, siap dipotong sebagai wujud rasa syukur yang mendalam.
Jembatan rangka baja sepanjang 18 meter dan lebar 3,6 meter tempat mereka bernaung ini bukanlah sekadar infrastruktur biasa. Bangunan kokoh ini membentang tepat di atas bekas tanah longsor yang curam, dengan susunan bronjong kawat berisi batu kali di dasar sungai Kali Jaran untuk menahan erosi susulan. Jembatan ini adalah jawaban atas doa dan kecemasan warga Dusun Sinongko dan Dusun Banjaran yang sempat terisolasi setelah akses jalan mereka putus total semenjak bencana melanda pada 16 Mei 2026 lalu.
Ingatan Bupati Agus Setyawan, seketika melayang pada peristiwa pilu sehari pasca-longsor. Saat pertama kali turun langsung ke lokasi, ia menyaksikan warga yang bergotong royong menebang pohon kelapa secara swadaya untuk dijadikan jembatan darurat agar kendaraan roda dua bisa melintas. Sambil memandangi Rumiyadi, seorang warga yang kini duduk lesehan tak jauh darinya, Bupati Agus teringat akan sebuah "tagihan janji".
"Saya ingat betul sebulan lalu disambati warga, 'pokoke ojo nganti sesasi loh pak' (pokoknya jangan sampai sebulan). Alhamdulillah, hari ini kita bisa syukuran bareng," kenang Bupati Agus yang datang didampingi sang istri, Panca Dewi, yang juga Anggota DPRD Kabupaten Temanggung.
Gerak cepat ini tak lepas dari kolaborasi lintas sektor yang bergerak dinamis. Bantuan jembatan bailey dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berhasil diturunkan berkat pengawalan aspirasi Anggota Komisi VIII DPR RI, Wibowo Prasetyo. Di lapangan, prajurit TNI dari Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 4/Tanpa Kawandya Banyubiru hingga Kodim Temanggung, berpeluh keringat bahu-membahu bersama warga Plosogaden untuk merakit jembatan tersebut hingga bisa berdiri kokoh.
Momen paling hangat dalam syukuran itu terekam ketika prosesi potong tumpeng dimulai. Tampil nyentrik dan bersahaja dengan mengenakan kemeja hijau, kain sarung, serta ikat kepala, Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong itu menyerahkan piring berisi potongan tumpeng pertama kepada Kepala Desa Plosogaden, Sutarno. Gestur takzim tersebut menjadi simbol apresiasi sang kepala daerah atas kerja keras dan gotong royong seluruh warga.
"Matur nuwun semuanya. Ini adalah bentuk kerja sama kita bersama dan doa semua masyarakat Plosogaden, sehingga dimudahkan Allah SWT dapat bantuan jembatan Bailey. Dan jembatan bailey ini jembatan sementara, bukan jembatan permanen. Monggo kita bersama-sama ikhtiar bareng-bareng lagi," ucap Agus hangat, yang langsung diamini oleh warga.
Kehadiran jembatan darurat ini langsung menghidupkan kembali denyut nadi desa. Truk dan mobil pengangkut hasil pertanian kini bisa kembali hilir mudik, meskipun warga harus tetap mematuhi batas muatan maksimal seberat lima ton demi keamanan.
Salah seorang warga setempat, Maryadi, tak mampu menyembunyikan rasa leganya.
"Kalau tidak ada bantuan jembatan bailey ini, masyarakat pasti bingung mau lewat ke mana. Khususnya pengguna roda empat. Karena ini satu-satunya akses vital perekonomian masyarakat Dusun Sinongko dan Banjaran untuk membawa hasil pertanian dan kopi," ungkap Maryadi dengan nada penuh syukur. (Adt;Istw;Ekp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook