Di Balik Kabut Sindoro, Open Pundhen Menjaga Napas Tradisi
Ket [Foto]: Di Balik Kabut Sindoro, Open Pundhen Menjaga Napas Tradisi

Di Balik Kabut Sindoro, Open Pundhen Menjaga Napas Tradisi

Temanggung, MediaCenter – Kabut pagi turun perlahan menyelimuti Wana Wisata Umbul Jumprit. Di antara rindangnya pepohonan dan beningnya mata air yang tak pernah berhenti mengalir, sinar matahari menembus sela-sela dedaunan, memantulkan cahaya keemasan di kaki Gunung Sindoro yang masih berselimut embun.

Udara pegunungan yang dingin seolah mengajak siapa saja menepi sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tempat yang sejak lama dipercaya sebagai ruang perjumpaan manusia dengan alam itu, warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, kembali merawat jejak para leluhur melalui tradisi Open Pundhen.

Satu per satu warga berdatangan. Ada yang membawa tumpeng, ada yang menggenggam doa dalam diam. Anak-anak berjalan di samping orang tuanya, sementara para sesepuh memimpin langkah menuju tempat yang dianggap sakral. Di bawah naungan pepohonan tua, tradisi yang diwariskan turun-temurun itu kembali dipanjatkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi masyarakat Tegalrejo, Open Pundhen bukan sekadar agenda budaya tahunan. Tradisi ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengingatkan bahwa manusia dan alam semesta tumbuh dalam satu ikatan yang tak terpisahkan.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tegal Makmur, serta jajaran Perhutani KPH Kedu Utara. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa pelestarian budaya dan kelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan.

Administratur KPH Kedu Utara melalui Wakil Administratur, Bambang Setyawan, mengatakan pelestarian budaya lokal memiliki nilai penting yang sejalan dengan upaya menjaga kelestarian hutan.

“Tradisi Open Pundhen merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus dilestarikan. Perhutani sangat mengapresiasi semangat masyarakat Desa Tegalrejo dalam menjaga warisan leluhur. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan kebersamaan dan kepedulian terhadap kelestarian hutan dapat semakin meningkat,” ujarnya, saat dihubungi, Jumat (18/6/2026).

Kepala Desa Tegalrejo, Wigati, menuturkan bahwa tradisi tersebut menjadi ruang silaturahmi, sekaligus penguat identitas masyarakat desa. Menurutnya, kebersamaan yang tumbuh dari tradisi menjadi modal penting untuk menjaga lingkungan dan nilai-nilai budaya yang diwariskan para pendahulu.

Sementara Ketua LMDH Tegal Makmur, Sugito, berharap sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan Perhutani terus terjalin kuat. Dengan kebersamaan itu, pelestarian hutan dan pengembangan potensi wisata Umbul Jumprit dapat terus berlangsung secara berkelanjutan.

Menjelang siang, matahari semakin tinggi. Kabut yang sejak pagi bergelayut di lereng Sindoro perlahan terangkat, memperlihatkan hamparan hijau hutan yang membingkai Umbul Jumprit. Doa-doa telah selesai dipanjatkan, namun makna yang ditinggalkan tradisi ini tetap tinggal: tentang rasa syukur, tentang hormat kepada alam, dan tentang upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup melintasi zaman. (Aiz;Ekp)

Di Balik Kabut Sindoro, Open Pundhen Menjaga Napas Tradisi
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook