Transformasi Pertanian, Petani Tembakau Mulai Beralih ke Cabai dan Hortikultura
Ket [Foto]: Transformasi Pertanian, Petani Tembakau Mulai Beralih ke Cabai dan Hortikultura

Transformasi Pertanian, Petani Tembakau Mulai Beralih ke Cabai dan Hortikultura

Temanggung, MediaCenter – Perubahan pola usaha tani mulai terlihat di Kabupaten Temanggung. Seiring menurunnya luas tanam tembakau dalam beberapa tahun terakhir, sebagian petani mulai mengembangkan komoditas hortikultura yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi.

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Temanggung, Sumarno, mengatakan luas tanam tembakau turun dari sekitar 18.600 hektare pada 2021 menjadi 13.133 hektare pada 2025. Meski demikian, tembakau masih tetap dibudidayakan luas oleh petani dengan pola tanam yang semakin beragam.

“Terjadi transformasi di tingkat petani. Sebagian mulai bergeser dari tanaman tembakau ke komoditas hortikultura, terutama cabai,” katanya, Rabu (17/6/2026).

Ia menyampaikan itu ditemui pada dialog “Membangun Dialog tentang Masa Depan Petani Tembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau” yang digelar di Hotel Atria Magelang, oleh Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang.  

Menurut Sumarno, luas tanam cabai di Temanggung mengalami peningkatan signifikan. Saat ini cabai keriting mencapai hampir 8.000 hektare, belum termasuk cabai rawit dan cabai besar yang juga terus berkembang.

Tingginya harga cabai dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang mendorong petani memilih komoditas tersebut.

Selain cabai, bawang merah juga menjadi alternatif usaha tani yang semakin diminati. Luas tanam bawang merah di Temanggung setiap tahun mendekati 2.000 hektare. Komoditas ini dinilai menarik, karena masa panennya relatif singkat, yakni sekitar 60–65 hari di dataran rendah dan 70–80 hari di dataran tinggi.

“Kualitas bawang merah yang berkembang di Temanggung antara lain varietas Batu Ijo dan Karet Bali. Ini menjadi pilihan baru bagi petani selain tembakau,” ujarnya.

Pengembangan bawang putih juga kembali meningkat seiring program nasional swasembada bawang putih. Menurut Sumarno, komoditas tersebut mulai banyak ditanam di sejumlah wilayah dataran tinggi yang memiliki kondisi agroklimat sesuai.

Di sektor perkebunan tahunan, Pemerintah Kabupaten Temanggung juga mendorong pengembangan kopi Arabika sebagai salah satu alternatif diversifikasi usaha tani. Komoditas ini dinilai memiliki prospek pasar yang baik, sekaligus cocok dikembangkan di kawasan pegunungan Temanggung.

Meski terjadi pergeseran ke hortikultura, Sumarno menegaskan, tembakau masih menjadi komoditas unggulan daerah. Banyak petani kini menerapkan pola tumpang sari dengan menanam cabai, bawang, kacang merah, maupun sayuran lain pada musim tertentu, kemudian kembali menanam tembakau saat memasuki musim kemarau.

“Jadi bukan meninggalkan tembakau sepenuhnya, tetapi petani semakin fleksibel dalam memilih komoditas sesuai kondisi pasar dan musim tanam,” tandasnya. (Aiz;Ekp)

Transformasi Pertanian, Petani Tembakau Mulai Beralih ke Cabai dan Hortikultura
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook