Sejarah Tari Bangilun Temanggung, Simbol Perlawanan Rakyat Terhadap Penjajahan Era Kolonialisme
Ket [Foto]: Sejarah Tari Bangilun Temanggung, Simbol Perlawanan Rakyat Terhadap Penjajahan Era Kolonialisme

Sejarah Tari Bangilun Temanggung, Simbol Perlawanan Rakyat Terhadap Penjajahan Era Kolonialisme

Temanggung, MediaCenter – Agenda Nyadran Ageng Bhumi Phala yang diselenggarakan di Kawasan Rest Area Kledung pada Sabtu (2/5/2026) pagi, tak hanya menyajikan serangkaian prosesi doa bersama oleh para petani demi mengharap berkah kemakmuran atas panenan hasil bumi semata.

Akan tetapi, juga diisi dengan daya tarik lain berupa aksi tarian massal seni Bangilun yang diikuti oleh sekitar 2.000 penari. Mereka berasal dari berbagai elemen seperti pelajar, petani, hingga Bupati Temanggung, Agus Setyawan berikut jajaran Forkompimda.

Tari Bangilun sendiri dipilih lantaran kesenian tersebut merupakan warisan budaya asli Kabupaten Temanggung yang masih eksis hingga saat ini. Bahkan, Bangilun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI sejak Desember 2025 lalu.

Hal ini sekaligus sebagai bukti adanya keberagaman seni di Kabupaten Temanggung. Tak hanya Jaran Kepang, nyatanya Bangilun juga memiliki rekam jejak, serta kisah sejarah dibaliknya.

Menurut Tenang, salah seorang pegiat Tari Bangilun dari Kelompok Sri Lestari Desa Kledung, Bangilun sendiri merupakan kesenian asli dari Kabupaten Temanggung yang mana eksistensinya sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, tepatnya saat era penjajahan kolonialisme Belanda.

“Saya ini adalah generasi ke-lima sebagai penggerak Seni Bangilun, khususnya di wilayah Kledung. Seni ini sudah ada sejak Mbah Buyut saya,” ungkapnya.

Dirinya menceritakan, Bangilun sejatinya merupakan bentuk ekspresi sebagai simbol perlawanan warga masyarakat pribumi terhadap segala bentuk penjajahan, serta penindasan oleh pemerintah kolonial Belanda kala itu, yang diwujudkan melalui sarana kesenian tari.

“Yang menjadi bukti adalah syair-syair saat Tari Bangilun dibawakan, masih memuat kisah perlawanan tersebut. Termasuk kepada kaum pribumi yang menjadi pengkhianat di era kolonialisme. Bahkan gerakannya juga menyiratkan ekspresi latihan perang,” imbuhnya.

Tak hanya simbolis bentuk perlawanan terhadap penjajahan kolonial, Bangilun juga kental akan muatan religius yang tersirat dalam setiap syair yang dilantunkan.

Lanjutnya, Bangilun memiliki atribut tertentu sebagai ciri khas yang dikenakan melekat pada sang penari. Yakni topi dan empok sebagai simbol perlindungan, selempang sebagai simbol kegagahan, dan sampur sebagai penghias atau simbol estetika.

“Jadi Tari Bangilun pada dasarnya adalah seni yang dikemas dengan nafas semangat perlawanan rakyat, sekaligus pesan religi atau agama di dalamnya,” bebernya.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Temanggung, Hanung Widanur, mengungkap bahwa sejauh ini terdapat puluhan kelompok seni Bangilun yang eksistensinya masih dapat dijumpai sampai saat ini.

Mereka tersebar di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Kledung, Bansari, dan Bulu. Kelompok-kelompok ini masih secara rutin menggelar pementasan dari panggung ke panggung.

“Di Kledung contohnya, ada dua kelompok Bangilun yang aktif sekali, karena rutin menggelar pementasan,” katanya.

Guna menjaga keberlangsungan Bangilun sebagai seni asli Kabupaten Temanggung, pihaknya akan terus menggencarkan regenerasi dengan menyasar kalangan pelajar, maupun generasi muda di berbagai penjuru wilayah. (Ifn;Istw;Ekp)

Sejarah Tari Bangilun Temanggung, Simbol Perlawanan Rakyat Terhadap Penjajahan Era Kolonialisme
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook