Ket [Foto]: Pipes Kopyor, Kuliner Tradisional Bertahan di Tengah Jajanan Modern
Pipes Kopyor, Kuliner Tradisional Bertahan di Tengah Jajanan Modern
Temanggung, Media Center - Deretan jajanan modern kini semakin mendominasi pasar takjil setiap bulan Ramadan. Namun di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sebuah kudapan tradisional bernama pipes kopyor tetap bertahan dan bahkan menjadi salah satu menu favorit masyarakat untuk berbuka puasa.
Aroma pandan yang harum berpadu dengan manisnya pisang, gurih santan, serta segarnya kelapa muda, membuat makanan sederhana ini selalu diburu warga saat sore menjelang maghrib.
Di sebuah dapur sederhana di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Temanggung, aktivitas memasak sudah dimulai sejak pagi hari. Di tempat inilah pipes kopyor dibuat secara turun-temurun oleh keluarga Khoiriyah.
Perempuan berusia 31 tahun itu, kini meneruskan usaha yang dirintis mertuanya, Sri Murniati (72), sejak sekitar 21 tahun lalu. Meski zaman berubah dan berbagai jajanan modern bermunculan, resep tradisional keluarga ini tetap dipertahankan.
Selama Ramadan, dapur produksi mereka hampir tidak pernah sepi. Sejak pukul 07.00 WIB, proses pembuatan sudah dimulai untuk memenuhi pesanan pelanggan yang terus berdatangan.
“Alhamdulillah, ada peningkatan sekitar 30 persen dibanding Ramadan tahun lalu. Kalau biasanya hanya sekitar 250 bungkus per hari, saat Ramadan bisa sampai 500 bungkus,” ujar Khoiriyah, ditemui disela-sela aktivitasnya, Senin (9/3/2026).
Penjualan biasanya dimulai sekitar pukul 13.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa. Tak jarang, seluruh dagangan habis sebelum sore berakhir.
Pipes kopyor dibuat dari bahan-bahan sederhana. Pisang tanduk atau kepok dipotong kecil, lalu dicampur dengan irisan kelapa muda, sagu panjang, santan, serta potongan roti. Semua bahan tersebut dimasukkan ke dalam plastik, kemudian dibungkus dengan daun pisang sebelum dikukus selama sekitar 15 menit.
Kesederhanaan proses itulah yang justru menghadirkan cita rasa khas. Santan yang meresap ke dalam roti dan sagu menghasilkan tekstur lembut, berpadu dengan manis alami pisang, serta segarnya kelapa muda. Ketika bungkus daun pisang dibuka, aroma pandan yang harum langsung menyeruak.
"Untuk menjaga kualitas rasa, saya tidak bisa sembarangan memilih bahan, terutama jenis pisang," tandasnya.
Selain varian pisang, juga menyediakan beberapa pilihan rasa, seperti pandan, pisang, degan, hingga sagu.
Meski menjadi jajanan favorit saat Ramadan, harga pipes kopyor tetap dijaga agar terjangkau. Saat ini, satu bungkus dijual seharga Rp 8.000. Harga tersebut tentu jauh berbeda dibandingkan saat usaha keluarga ini pertama kali dirintis pada 2005. Saat itu, satu bungkus pipes kopyor hanya dijual Rp1.500.
Menariknya, pembeli tidak hanya berasal dari Temanggung. Banyak pelanggan datang dari luar kota, seperti Purwokerto, Semarang, hingga Yogyakarta. Sebagian di antaranya sengaja datang untuk menikmati rasa autentik jajanan tradisional tersebut.
Salah satu pembeli, Budi Priyono (42), mengaku hampir setiap Ramadan selalu menyempatkan diri membeli pipes kopyor.
“Ini makanan jadul. Kadang kita kangen jajanan waktu kecil dulu. Rasanya khas dan cocok untuk buka puasa karena manis, gurih, dan harganya juga murah,” tuturnya.
Bagi sebagian orang, menikmati pipes kopyor bukan sekadar mengisi perut setelah seharian berpuasa. Kudapan ini juga menghadirkan nostalgia masa lalu—tentang masa kecil, tentang kesederhanaan, dan tentang kenangan yang terasa hangat.
Di tengah menjamurnya kuliner kekinian, keberadaan pipes kopyor menjadi bukti, bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Terlebih saat Ramadan, makanan sederhana ini justru menjadi salah satu takjil yang paling dirindukan. (Fir;Ekp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook