Ket [Foto]:
Harapan Manis Amel Jelang Lebaran; Merajut Mimpi Warung Roti Sendiri di Sentra Terpadu Kartini
Temanggung, MediaCenter - Aroma mentega dan gula yang baru meleleh menyeruak lembut dari ruang workshop boga di Sentra Terpadu Kartini. Pagi itu, Selasa (3/3/2026), cahaya matahari pagi yang lembut menyusup lewat jendela, menyinari delapan tangan yang sibuk menimbang, mengaduk, dan mencetak adonan.
Di antara hiruk-pikuk itu, Amelia Putri Rosanti—atau Amel, gadis 21 tahun dengan senyum malu-malu—berdiri di depan meja stainless steel. Matanya tak lepas dari loyang yang baru keluar dari oven. Di dalamnya, nastar berjejer rapi, kuning keemasan, siap dibungkus toples.
Amel bukan sekadar ikut-ikutan. Setiap kali jarinya menyentuh adonan, ia sedang merajut mimpi yang sederhana, tapi membara: suatu hari nanti, ia ingin membuka warung roti kecil milik sendiri. Bukan toko mewah di pinggir jalan besar, cukup sebuah kedai mungil di kampungnya, penuh dengan roti manis hangat, kue kering Lebaran, dan mungkin beberapa kue basah yang laris di pagi hari.
“Saya senang membuat roti,” katanya sambil tersenyum, tangannya tak berhenti mengoles selai nanas di atas nastar.
“Tidak ada yang sulit, justru saya menikmati prosesnya,” tuturnya.
Sejak bergabung dengan pelatihan vokasional boga residensial di Sentra Terpadu Kartini, Amel dan tujuh temannya belajar bukan hanya resep, tapi cara bertahan hidup. Mereka mulai dari nol: memahami takaran tepung, ragi, dan mentega, hingga menata kue dengan rapi di toples kaca.
Setiap pagi menjelang Lebaran ini, workshop berubah menjadi pabrik kecil. Nastar, kastengel, pumpkin cheese cookies, kue salju keju—semuanya diproduksi sesuai kemampuan masing-masing. Dalam sehari, delapan toples sudah terisi dua jenis kue. Sebagian dijual, sebagian lagi disisihkan jadi tabungan yang akan menjadi modal awal saat mereka lulus nanti.
Della Febriola, instruktur, sekaligus penanggung jawab pelatihan, berdiri di sudut ruangan sambil mengawasi.
“Kami bukan hanya mengajari mereka memanggang,” ujar Della pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh denting sendok dan loyang.
“Kami memberi mereka resep standar, mereka yang menyiapkan bahan, mengukur sendiri, mempraktikkan sendiri. Ini soal tanggung jawab. Ini soal kemandirian,” tandasnya.
Bagi Amel, setiap adonan yang diuleni adalah babak baru dalam cerita hidupnya. Ia datang ke Sentra Terpadu Kartini dengan satu keinginan: mandiri secara ekonomi. Pelatihan ini bukan sekadar kursus memasak. Di sini, ia belajar, bahwa mimpi bisa dirajut dari tepung dan gula, bahwa tangan yang dulu mungkin hanya biasa mencuci piring, kini bisa menciptakan sesuatu yang orang lain mau beli.
Tak hanya di bulan Ramadan. Pelatihan tetap berjalan di hari-hari biasa: roti tawar, masakan Indonesia sehari-hari, hingga minuman kekinian. Kalau ada pesanan dari luar, para peserta langsung turun tangan. Semua menjadi bagian dari persiapan hidup setelah mereka kembali ke keluarga atau memulai usaha sendiri.
Saat matahari semakin tinggi dan aroma kue semakin pekat memenuhi ruangan, Amel mengelap tangannya di celemek. Ia menatap tumpukan toples di rak, lalu tersenyum lagi—kali ini lebih lebar.
“Dengan keterampilan ini,” katanya pelan, tapi penuh keyakinan, “saya ingin punya usaha sendiri. Saya ingin mandiri,” harapnya.
Di Sentra Terpadu Kartini, pagi menjelang Lebaran ini bukan hanya soal rutinitas. Bagi Amel, ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju sebuah warung roti kecil yang suatu hari nanti akan berbau mentega dan harapan. (Aiz;Ekp)







Tuliskan Komentar anda dari account Facebook