Saat Polisi, Wartawan, dan Influencer Duduk Satu Meja
Ket [Foto]: Saat Polisi, Wartawan, dan Influencer Duduk Satu Meja

Saat Polisi, Wartawan, dan Influencer Duduk Satu Meja

Temanggung, MediaCenter – Senja turun perlahan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Kowangan. Lampu-lampu kafe mulai menyala, memantulkan nuansa hangat pada dinding bernuansa tahun 50-an. Di teras kafe itulah, suasana terasa berbeda.

Kapolres Temanggung, AKBP Zamrul Aini, duduk satu meja bersama wartawan dan para influencer. Tak ada podium, tak ada jarak resmi yang kaku. Hanya percakapan santai ditemani minuman hangat dan tawa ringan yang sesekali pecah.

Seragam cokelat berpadu dengan kemeja santai dan ponsel-ponsel yang tak lepas dari genggaman. Namun obrolan mereka bukan soal tren atau sensasi. Yang dibahas justru hal sederhana tapi mendasar: harapan masyarakat.

Di tengah perbincangan, Kapolres menyampaikan, bahwa harapan warga terhadap kepolisian sesungguhnya besar. Masyarakat ingin pelayanan yang cepat, informasi yang jelas, dan rasa aman yang benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapan masyarakat itu besar, tetapi jembatannya yang perlu kita perkuat,” ujarnya pelan, namun tegas di House 55 Temanggung, Rabu (25/2/2026) sore.

Kalimat itu menggantung sejenak di udara senja. Jembatan yang dimaksud bukan beton atau baja, melainkan komunikasi. Di zaman ketika informasi melesat secepat sentuhan layar, satu kanal tak lagi cukup. Ada yang setia membaca koran pagi, ada yang menyalakan radio di warung kopi, ada pula yang lebih percaya pada video singkat di media sosial.

Karena itulah, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Ia menjadi ruang temu antara aparat dan para penyampai pesan publik. Di sana tumbuh kesadaran, bahwa menjaga kondusivitas wilayah bukan hanya tugas Polres Temanggung semata, tetapi kerja bersama.

“Ini era kolaborasi, bukan kompetisi,” kata Kapolres lagi, menegaskan.

Konten media sosial bisa hadir di televisi. Berita koran dapat diolah menjadi tayangan digital. Informasi radio dapat menyebar ulang lewat platform daring. Semua saling terhubung, saling menguatkan.

Di sudut teras, Firman, salah satu jurnalis yang hadir, menyimak sambil sesekali mengangguk. Baginya, peran wartawan tetap pada relnya: menyampaikan kritik jika perlu, menjadi kontrol sosial, sekaligus mendukung langkah-langkah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Wartawan tetap menjalankan fungsi kontrol, tapi juga mendukung terjaganya kamtibmas,” ujarnya.

Pertemuan itu mungkin tampak sederhana—hanya obrolan sore sambil berbuka puasa di sebuah kafe di Temanggung. Namun dari meja-meja yang dirapatkan dan percakapan yang mengalir tanpa sekat, tersimpan makna yang lebih dalam: ketika polisi, media, dan masyarakat saling terhubung, jarak bisa dipersempit.

Di kota kecil berhawa sejuk itu, kolaborasi bukan sekadar slogan. Ia tumbuh dari dialog, dari kesediaan untuk saling mendengar. Sebab pada akhirnya, rasa aman dan informasi yang utuh hanya bisa lahir, jika semua mau duduk satu meja—dengan hati yang terbuka.

Kuncinya sederhana, seperti yang disampaikan Kapolres sore itu: konektivitas dan kolaborasi. (Aiz;Ekp)

Saat Polisi, Wartawan, dan Influencer Duduk Satu Meja
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook