Ket [Foto]: Pada Setiap Ketukan Tatah, Ada Harapan yang Dipahat
Pada Setiap Ketukan Tatah, Ada Harapan yang Dipahat
Temanggung, MediaCenter — Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika bunyi tatah mulai memecah keheningan di sebuah rumah seni di Desa Samiranan, Kecamatan Kandangan. Ketukannya lirih, nyaris seperti doa yang dilafalkan berulang-ulang. Sebilah besi kecil menyentuh kulit yang telah mengering, melahirkan lubang demi lubang, garis demi garis. Dari sanalah sebuah kisah perlahan menemukan bentuknya.
Di Sanggar Sedulur Pembarep Art Space, waktu seolah memilih berjalan lebih pelan. Tak ada hiruk-pikuk mesin atau denting gawai yang saling berebut perhatian. Yang terdengar hanya napas para pembelajar, suara tatah yang berirama, dan keyakinan bahwa warisan budaya hanya akan tetap hidup, jika ada tangan yang bersedia meneruskannya.
Wayang kulit, bagi mereka, bukan sekadar lembaran kulit yang dipahat menjadi tokoh pewayangan. Ia adalah jejak ingatan, tempat nilai-nilai hidup disimpan, dan cermin panjang perjalanan kebudayaan Jawa. Namun, jejak itu perlahan menipis. Semakin sedikit anak muda yang mengenal seni tatah sungging, apalagi menjadikannya sebagai jalan hidup.
Kegelisahan itulah yang melahirkan Workshop Tatah Sungging Wayang Kulit Gaya Kedu sejak awal Juni 2026. Setiap pekan, sekitar dua puluh peserta dari berbagai usia berkumpul di sanggar. Ada anak-anak sekolah dasar yang datang dengan mata penuh rasa ingin tahu, mahasiswa yang mencari akar budayanya, hingga masyarakat umum yang sekadar ingin mengenal seni yang hampir terlupakan.
Bagi Ade Rafles Surya Anggara, pembimbing workshop, setiap peserta yang datang adalah secercah harapan.
"Kami khawatir semakin sedikit orang yang mampu menatah dan menyungging wayang. Kalau tidak mulai diwariskan sekarang, mungkin suatu hari nanti yang tersisa hanya cerita tentang keahlian itu," tuturnya kepada Tim Media Center, Jumat (31/7/2026).
Karena itu, mereka tidak tergesa-gesa menciptakan tokoh pewayangan. Seperti belajar membaca sebelum menulis, para peserta lebih dahulu diajak mengenali ragam hias Gurdo Mungkur. Dari ornamen itulah mereka memahami bahasa pertama dalam tatah sungging—belajar mengukur tekanan tangan, merasakan irama pukulan, hingga mengenali ketelitian yang menjadi napas setiap karya.
Sesungguhnya, yang diwariskan di ruang itu bukan hanya keterampilan.
Ada nama yang terus hidup dalam setiap pelajaran, yakni almarhum Ki Legowo Citro Karsono, maestro tatah sungging yang pernah membimbing Ade dan kawan-kawan melalui program Belajar Bersama Maestro. Workshop ini menjadi cara sederhana untuk menjaga agar ilmu sang guru tidak berhenti pada satu generasi.
"Ilmu itu seperti api. Jika tidak diteruskan, ia akan padam. Kami hanya berusaha memindahkan nyalanya ke tangan-tangan berikutnya," kata Ade.
Di sudut ruangan, Haidar Rumi, bocah kelas III sekolah dasar, tampak khusyuk menggenggam tatah kecil. Sesekali ia mengangkat wajah, memandangi pola yang mulai terbentuk di atas kulit. Senyum tipis mengembang ketika gurunya mengangguk memberi tanda bahwa goresannya mulai benar.
"Awalnya saya ikut, karena disuruh ayah. Sekarang saya senang, karena ternyata membuat wayang itu menyenangkan," ucapnya dengan mata berbinar.
Mungkin begitulah sebuah tradisi bertahan. Bukan melalui gemuruh perayaan atau panggung yang megah, melainkan lewat tangan-tangan kecil yang dengan sabar belajar memukul tatah, satu ketukan demi satu ketukan.
Sore nanti, ketika cahaya perlahan turun di lereng Temanggung, suara tatah itu mungkin akan kembali tenggelam dalam kesunyian. Namun gema yang ditinggalkannya akan tetap tinggal—di sela ukiran, di dalam ingatan, dan pada hati orang-orang yang percaya, bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar tua, selama masih ada generasi yang bersedia merawatnya.
Sebab setiap ketukan tatah bukan hanya membentuk selembar wayang. Ia sedang memahat harapan agar Wayang Kulit Gaya Kedu Temanggungan terus hidup, melintasi zaman, tanpa kehilangan jiwanya. (Aiz:EKp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook