Kirab Pusaka dan Tumpeng, Lengkapi Nyadran Mbah Kyai Jampi
Ket [Foto]: Kirab Pusaka dan Tumpeng, Lengkapi Nyadran Mbah Kyai Jampi

Kirab Pusaka dan Tumpeng, Lengkapi Nyadran Mbah Kyai Jampi

Temanggung, Media Center - Tahun ini, Nyadran Mbah Kyai Jampi yang dilakukan oleh warga RW 04 Kelurahan Jampiroso, Kecamatan Temanggung berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun ini, prosesi nyadran dilakukan dengan kirab pusaka dan tumpeng, mulai dari halaman Kantor Kecamatan Temanggung sampai dengan makam punden, yaitu makam Mbah Kyai Jampi dan Nyai Jampi, Jumat (6/2/2026).

Ketua panitia Nyadran Mbah Kyai Jampi, Bambang Sutopo menjelaskan, dalam nyadran kali ini, ada tambahan kirab pusaka sesaji, seperti tumpeng dan gunungan hasil bumi, serta pembacaan mantera atau doa. Selain itu, dibawa pula 7 kendi berisikan air dari 7 sumber mata air atau sendang yang berbeda untuk dijadikan sebagai air doa.

“7 sendang itu ada sendang Kyai Panggang, Topeng Ireng, Gadung Melati, Pikat, Walitelon, Rowali, lan kalih (beserta) Kyai Ragil. Kenapa? Karena, dulu, kalau ada sendang berarti ada kehidupan di sekitarnya, jadi pesan yang bisa diambil, kita harus jaga sendang-sendang itu biar terus mengeluarkan air. Karena air itu adalah kehidupan,” tuturnya.

Bambang menambahkan, adanya kehadiran pusaka, sesaji, mantera supaya prosesi nyadran, khususnya di makam Punden Mbah Kyai Jampi tersebut runtutannya utuh yang merupakan bagian dari budaya atau tradisi Jawa.

“Dengan adanya pusaka itu paling tidak kita bisa mengingat dengan para leluhur kita. Sehingga dengan kirab tersebut, generasi penerus dapat mengidentifikasi sebuah pusaka peninggalan itu bukan merupakan hal mistik. Akan tetapi, seni budaya yang adiluhung dan penuh makna,” lanjutnya.

Bambang menambahkan, sesaji-sesaji yang dimaksud itu bukan yang diartikan persembahan untuk bangsa gaib, akan tetapi, sesaji-sesaji tersebut diyakinkan untuk sedekah bumi. Sedekah bumi yang dimaksud adalah sedekah untuk mahluk penghuni bumi, misalnya manusia dalam kasus ini, mahluk yang memakan masakan hasil panen atau hasil bumi. Ada pula burung, kucing, semut dan sebagainya.

Mereka memakan sisa-sisa makanan yang berjatuhan. Tanah pun juga mendapatkan sedekah dari kegiatan tersebut, yakni diberikannya limbah makanan organik yang akan terurai dengan tanah menjadi pupuk kompos alami tanpa zat kimia.

“Jadi itu merupakan tanda terima kasih kita kepada bumi yang menjaga kita. Maka, kita juga harus menjaga dan merawat bumi. Selain itu, juga mengajarkan anak agar tidak terkotakkan dengan kemistikan,” pungkasnya. (Chy;Ekp)

Kirab Pusaka dan Tumpeng, Lengkapi Nyadran Mbah Kyai Jampi
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook