Boyong Menoreh, Jejak Sejarah Perpindahan Pusat Pemerintahan dari Parakan ke Temanggung
Ket [Foto]: Suasana khidmat bercampur meriah mewarnai prosesi Boyong Menoreh atau Grebeg Parakan

Boyong Menoreh, Jejak Sejarah Perpindahan Pusat Pemerintahan dari Parakan ke Temanggung

Temanggung, Media Center — Suasana khidmat bercampur meriah mewarnai prosesi Boyong Menoreh atau Grebeg Parakan yang digelar di Kabupaten Temanggung, Minggu (9/11/2025) pagi. Bupati Agus Setyawan dan Wakil Bupati Nadia Muna, bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) mengikuti upacara penyerahan pataka di depan Masjid Jetis Parakan, yang secara simbolik diserahkan kepada Bupati, Ketua DPRD, dan Wakil Bupati.

Antusiasme warga tampak di sepanjang jalur kirab. Ribuan masyarakat memadati jalan, menyambut rombongan sambil menikmati rangkaian hiburan rakyat.

“Sebagai warga, saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah. Acara ini selalu ditunggu setiap tahun. Semoga tetap ada di tahun-tahun berikutnya,” ujar Novi Nur Hidayah (31), warga Temanggung, di sela-sela keramaian perayaan Hari Jadi Temanggung.

Dengan semangat sejarah dan kebersamaan, Boyong Menoreh tahun ini menjadi penanda bukan hanya perjalanan masa lalu Temanggung, tetapi juga harapan akan pelestarian budaya lokal di masa depan.

“Rasanya bangga, Budaya Grebeg Parakan (Boyong Menoreh) masih ada,” tutur Nurhayati (45), warga Parakan yang menyaksikan bersama keluarganya.

“Suasananya seperti menyatu antara masa lalu dan sekarang. Anak-anak juga jadi tahu sejarah kotanya sendiri,” lanjutnya.

Kirab budaya yang menjadi inti prosesi itu menempuh rute dari Jetis, melewati Jalan Diponegoro, Pertigaan Pasar, hingga Perempatan Kemalangan, lalu Masjid An-Najah sebelum menuju Kawedanan. Di lokasi ini, rombongan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Dari Kawedanan, peserta kirab disambut penampilan flashmob dari siswa SMK 17 Parakan, kemudian dilanjutkan karnaval yang menambah semarak suasana. Rombongan kemudian menuju pusat kota Temanggung dan berhenti di kawasan Pandean, di sana mereka disambut oleh Pj. Sekda, Ripto Susilo.

Prosesi Boyong Menoreh bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Kegiatan ini merupakan rekonstruksi sejarah yang menandai perpindahan pusat pemerintahan dari Parakan ke Temanggung, pada awal abad ke-19. Kala itu, wilayah ini dikenal dengan nama Kadipaten Menoreh yang dipimpin oleh Raden Tumenggung Aria Soemadilaga sekitar tahun 1819–1825. Setelah ia wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh patihnya, Raden Ngabehi Djojonegoro (Djajanegara), berdasarkan Dekrit Pemerintah Hindia-Belanda Nomor 11 tertanggal 7 April 1826.

Di bawah kepemimpinan Raden Tumenggung Djojonegoro inilah pusat pemerintahan dipindahkan dari Parakan ke Temanggung. Pemindahan tersebut kemudian diteguhkan secara administratif melalui Resolusi Pemerintahan Hindia-Belanda Nomor 4 tanggal 10 November 1834, yang sekaligus menetapkan lahirnya Kabupaten Temanggung.

Boyong Menoreh menjadi cara masyarakat mengenang fase penting sebuah momentum historis yang menandai pergeseran pusat kekuasaan, sekaligus penghormatan terhadap akar sejarah Parakan sebagai cikal bakal kabupaten. (Wll;Ekp)

Suasana khidmat bercampur meriah mewarnai prosesi Boyong Menoreh atau Grebeg Parakan
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook