Iklan Layanan Masyarakat

Rendeng, Kembang Kopi, Putri Malu, dan Duren Jadi Motif Khas Batik Purwosari
Umum Sosial Kebudayaan Dan Pariwisata Pendidikan Ekonomi INSANIF PUSKOMKREF Sistem Informasi Desa (SID) PPID STATISTIK INFORMATIKA KOMUNIKASI KOMINFO Agenda OPD SEPUTAR TEMANGGUNG BERITA NASIONAL hoax terkini


admin 15 Apr 2019 194
Blog single photo

Temanggung, MediaCenterBerbagai daerah berlomba-lomba untuk menciptakan motif khas untuk batiknya masing-masing. Mulai dari makanan khas, tumbuhan dan buah-buahan yang banyak dijumpai di suatu daerah.

Di Desa Purwosari Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung terdapat kelompok ibu-ibu yang menciptakan karya batik lokal yang mampu bersaing dengan batik dengan daerah lain di Kabupaten Temanggung.

Sambutan Bupati Temanggung dalam pencanangan Kampung Keluarga Berencana di Desa Purwosari, beberapa waktu yang lalu, mengemukakan bahwa pihaknya melihat ada pameran produk-produk dari Purwosari, “Khususnya batik yang luar biasa, warnanya sangat bervariasi sangat cerah yang mencerminkan harapan-harapan masyarakat Desa Purwosari yang sangat luar biasa,” tuturnya.

Bahkan semua seragam perangkat desa telah menggunakan batik buatan sendiri. “Saya ingin di Temanggung mampu mencanangkan program 100% Temanggung, harusnya orang Temanggung itu memakai produk asli buatan Kota Temanggung. Program ini belum saya luncurkan tetapi Purwosari sudah lebih dulu,” pungkas Bupati Temanggung.

Dan pada kesempatan yang sama selaku Kepala Desa Purwosari Slamet Prabowo menyampaikan dalam sambutannya bahwa, pihaknya menginginkan pemberdayaan ini berlanjut supaya Desa Purwosari bisa lebih maju lagi dari sekarang. Dengan potensi yang telah ada di Purwosari, khususnya batik dari kelompok ibu-ibu sudah membuktikan bahwa Desa Purwosari mampu menciptakan potensi berupa batik dan sekarang sudah dikenakan untuk dijadikan seragam oleh Kepala desa Purwosari dan seluruh Perangkat Desa Purwosari.

“Kami selalu berusaha supaya kedepannya seragam SD, SMP, SMA dan SMK untuk bisa berasal dari produk kelompok batik Purwosari sendiri. Dan kami sangat berterima kasih untuk tokoh-tokoh yang telah berkenan mendampingi kami, karena tanpa dukungan tersebut Pemerintahan Desa Purwosari tidaklah mungkin untuk bisa menjadi seperti ini,” pungkasnya.

Dijumpai  Senin (15/04/2019) di Kantor Kecamatan, Camat Kranggan sekaligus pelatih dan pembuat desain batik, Tri Raharjo menjelaskan dalam wawancara, bahwa niatan awal, dimanapun pihaknya ditempatkan bekerja harus bisa memberikan atau bahkan memberdayakan masyarakat agar mereka memperoleh keterampilan dan keahlian agar mereka bisa lebih menunjang kebutuhan hidup mereka sendiri.

Dan pada awal tahun 2017, dilaksanakan kegiatan latihan dua kelompok perempuan yang bernama kelompok Dewi Purwo. “Untuk pelatihnya adalah saya dan istri saya sendiri, yang langsung terjun untuk membuat desain khusus untuk Purwosari dan kami patenkan,” jelasnya.

Sedangkan Batik dari Desa Purwosari mengambil dari rendeng, kembang kopi, putri malu, dan duren yang memang banyak terdapat di daerah tersebut. Pada tahun 2018 pemerintahan desa tetap melanjutkan pelatihan membatik menggunakan dana desa. “Ini membuktikan bahwa pemerintahan Desa Purwosari bertekat untuk memajukan masyarakatnya menggunakan dana desa,” lanjutnya.

“Untuk pemasaran batik akan kami dampingi apabila ada kesulitan, seperti melalui pameran, Temanggung Fair, dan lain-lain. Akan tetapi jika hasilnya sudah lebih bagus dan rapi akan kami pamerkan di ajang nasional maupun internasional. Untuk produk-produk kreatif yang lain akan kami tingkatkan potensi-potensi yang ada dan apabila ada acara-acara semacam pameran atau bazar akan kami terus promosikan,” tegas Camat Kranggan mengakhiri wawancara. (MC TMG/Penulis, Foto: Agung, Editor: Ekape )

Recent Comments

Tinggalkan Komentar

Top