Mujahadah Wali Qutub Doa Bersama untuk Kesejahteraan Temanggung
Ket [Foto]: Mujahadah Wali Qutub Doa Bersama untuk Kesejahteraan Temanggung

Mujahadah Wali Qutub Doa Bersama untuk Kesejahteraan Temanggung

Temanggung, MediaCenter - Rangkaian Peringatan HUT ke-192 Kabupaten Temanggung telah dimulai, salah satunya dengan diselenggarakannya Mujahadah Wali Qutub. Ritual ini merupakan kegiatan doa bersama yang diikuti oleh para ulama, umaro, dan masyarakat luas, di area Tugu Bambu Runcing Parakan, Sabtu (17/10/2026) malam.  

Sekda Tri Winarno, perwakilan Forkopimda, beserta Danang Anggoro, secara khusus menghadiri acara Mujahadah Wali Kutub ini. Selain itu, hadir pula para ulama, yakni, KH Abdul Hadi Zaen Abdul Hamid, KH Yakub Mubarok, KH Utsman, KH Abdulloh Sahal Nasucha, KH Dziy'aul Lamik, KH Isa Ansori, KH Mustahal Nasucha, KH Abdul Rahman dan lain-lain.

Sekda Tri Winarno mengatakan, bahwa tema peringatan Hari Jadi Ke-192 Kabupaten Temanggung “Bhumi Phala Rahayuning Praja”. Tema ini mengandung makna menjadikan kekayaan alam dan warisan budaya lokal sebagai pijakan utama untuk melangkah ke depan.

Tema tersebut sekaligus menegaskan, bahwa kesejahteraan Temanggung hanya dapat dicapai melalui ikatan gotong-royong dan kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat. Adapun Mujahadah Wali Qutub mengawali rangkaian kegiatan Hari Jadi dengan tujuan mendoakan keselamatan, kemajuan, serta kesejahteraan masyarakat Temanggung.

"Atas nama Pemerintah Kabupaten Temanggung, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan menyambut baik diselenggarakannya acara Mujahadah Wali Qutub. Saya mengajak kepada seluruh jamaah yang hadir untuk memanfaatkan momen mujahadah ini dengan khusyuk. Mari kita doakan bersama agar Kabupaten Temanggung senantiasa diberkahi dengan kedamaian, masyarakatnya hidup rukun, makmur, dan sejahtera," ujarnya.

Imam Mujahadah, KH Abdul Hadi Zaen Abdul Hamid memimpin doa bersama seluruh jamaah yang hadir dalam majelis tersebut. Dalam temaram malam suasana begitu khidmat, saat semuanya larut dalam kekhsyukan, terutama saat semua lampu dimatikan, hanya remang cahaya sentir atau ublik yang menyala. Mereka mendoakan Rosullullah, para alim ulama, seluruh masyarakat, dan memohon kepada Alloh SWT agar Kabupaten Temanggung senantiasa dalam lidungan, diberikan kesejahteraan.

Sementara itu Khodimul Parakan, KH Mustahal Nasucha menuturkan, bahwa Mujahadah Wali Qutub menjadi salah satu cara masyarakat mengungkapkan harapan sebagaimana yang disampaikan Sekda, yakni damai, rukun, makmur, sejahtera. Melalui doa bersama ini ada permohonan agar Temanggung menjadi daerah yang aman, damai, tentram, sejahtera. Para pemimpinnya diberi kebijaksanaan, pun begitu masyarakatnya senantiasa sehat, serta dimudahkan dalam mejemput rezeki.

Harapan itu, kata Gus Tahal, terangkum dalam ungkapan yang akrab di telinga masyarakat: gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Sebuah doa agar Temanggung diberi kemakmuran, ketenteraman, dan keberkahan, tanpa kehilangan akar sejarah, serta nilai kebersamaan yang diwariskan para pendahulu.

"Pada akhirnya, peringatan hari jadi bukan hanya tentang menghitung usia, tapi juga tentang mengingat asal-usul, mensyukuri perjalanan, dan meneguhkan harapan. Dari doa yang dipanjatkan dalam Mujahadah Wali Qutub, masyarakat menitipkan satu harapan bersama. Semoga Kabupaten Temanggung senantiasa dalam lindungan Allah SWT, diberi kekuatan untuk menjaga warisan masa lalu, dan dilapangkan jalannya menuju masa depan yang lebih baik," tuturnya. (Ary;Istw;Ekp)

Mujahadah Wali Qutub Doa Bersama untuk Kesejahteraan Temanggung
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook