Iklan Layanan Masyarakat

Tanaman Cabai Terserang Patek, Petani Alami Kerugian

Senin, 26 Okt 2020 08:07:27 158

Keterangan Gambar : Petani cabai di Desa Lungge, Kecamatan/Kabupaten Temanggung mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat tanaman cabainya diserang patek dan gagal panen.


Temanggung, MediaCenter - Sejumlah petani cabai di Temanggung, Jawa Tengah mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat tanaman cabainya diserang patek dan gagal panen. Penyebabnya cuaca lembab setelah diguyur hujan terus menerus sejak beberapa hari terakhir.

Sodik (50 th) salah seorang petani cabai di Desa Lungge, Kecamatan/Kabupaten Temanggung, menceritakan, tanaman cabai rawit merah pada lahannya seluas 2.000 meter persegi terpaksa harus dicabut untuk selanjutnya diganti tanaman baru. Serangan patek pada tanaman menyebabkan hampir seluruh buah cabai membusuk. Patek dengan cepat menyebar pada lahan cabai disekitarnya.

"Patek ini karena cuaca lembab dan berjamur setelah diguyur hujan terus menerus. Buah cabai busuk semua, sehingga tidak bisa dipanen. Semua tanaman harus dicabut dari akarnya dan nantinya harus diganti tanaman baru agar serangan patek tidak makin meluas," tutur Sodik, Minggu Sore (25/10/2020), di Temanggung.

Sebelum terkena patek, menurut Sodik, tanaman cabainya sempat digeroyok tikus pada awal panen sekitar Bulan Agustus lalu. Hanya sekitar 50 persen yang lolos dari ancaman tikus dan berhasil dipanen. Namun pada saat itu harga jual cabai malah teramat rendah terimbas pandemik Korona. Yakni di kisaran Rp 8.000 - 11.000 per kilogram (kg).

Hasil penjualan cabai dirasa tidak bisa menutup biaya tanam hingga panen yang mencapai Rp 20 juta per 1000 meter persegi luasan lahan cabai. Karena rugi, Sodik enggan merawat dan memanen cabainya lagi. Selama hampir dua bulan buah cabai dibiarkan tidak dipetik.

"Soalnya harga jual cabai untuk membayar pekerja yang memetik cabai pun tidak cukup, jadi dibiarkan tidak dipanen," ujar Sodik.

Diakui Sodik, kondisi tersebut membuatnya jarang datang ke sawah untuk menyemprot cabai agar terhindar dari hama penyakit tanaman. Lantaran dibiarkan tanpa perawatan, tanaman cabainya malah busuk diserang patek. Padahal mestinya ia melakukan petik cabai tiap empat hari sekali dengan total produksi cabai di kisaran 1,5 kuintal.

"Jadi ruginya tambah banyak. Biaya tanam Rp 40 juta untuk 2000 meter persegi saja tidak balik modal. Tapi ini rencananya mau ditanam cabai merah premium setelah ini," katanya.

Bahrodin (52 th) petani lainnya mengalami hal yang sama. 2.000 meter persegi areal tanaman cabainya pun habis diserang patek. Sebagian lahan sudah dibersihkan dan diganti tanaman padi. Yang sebagian lagi masih dibiarkan belum diganti.

"Semula saya kira yang sebagian masih bisa dimanfaatkan, karena masih ada cabai yang tidak terkena patek. Ternyata patek menyebar sangat cepat dan semuanya busuk," ungkapnya. (MC.TMG/Tosiani;Ekape)

Pencarian:

Komentar:

Top