Iklan Layanan Masyarakat

Pesawat Aeromodelling, Dari Hobi menjadi Rejeki
Umum Sosial Kebudayaan Dan Pariwisata Pendidikan Ekonomi INSANIF PUSKOMKREF Sistem Informasi Desa (SID) PPID STATISTIK INFORMATIKA KOMUNIKASI KOMINFO Agenda OPD SEPUTAR TEMANGGUNG BERITA NASIONAL hoax terkini


admin 21 Feb 2019 307
Blog single photo

Temanggung, MediaCenterBerawal hanya sebuah hobi menjadi peluang mendatangkan rejeki yang berasal dari pembutan Pesawat Aeromodelling.

Pesawat Aeromodelling sendiri merupakan suatu kegiatan yang dipergunakan sebagai sarana miniatur (model) pesawat terbang untuk tujuan rekreasi, edukasi dan olahraga. Kegiatan ini umumnya digemari oleh peminat ilmu pengetahuan dan teknologi secara perorangan ataupun yang tergabung dalam organisasi sosial kemasyarakatan, yang digunakan untuk menyebarluaskan minat kedirgantaraan di bidang aeromodelling seperti Pramuka melalui kegiatan Satuan Karya (SAKA) Dirgantara, Karang Taruna, Unit kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus-kampus serta perkumpulan olahraga kedirgantaraan.

Aeromodelling sendiri merupakan hobi yang diminati banyak kalangan. Namun, hobi ini tergolong mahal karena memang untuk mendapatkan mesin yang bisa terbang serta dikontrol bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan pengetahuan, serta airframe/kit yang berkualitas dan memiliki performa tinggi, yang sebagian besar diproduksi di luar negeri. Selain harga barangnya yang mahal, biaya import juga menjadi masalah tersendiri bagi kalangan hobi menengah kebawah sehingga banyak aeromodeller memutuskan untuk membuat sendiri airframe pesawat aeromodelling mereka.

Ditemui di bengkel pembutan mainan Pesawat Aeromodelling yang terletak di Perum Kavling Desa Giyanti Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung, Mundi Prabowo (37) begitu teliti mengukur Panjang dan berat sebuah pesawat mainan buatannya.

Pemuda asli Temanggung tersebut mengaku dari awalnya mengikuti sebuah komunitas Temanggung Aeromodelling Club (TMGAC) yang memang seluruh anggotanya memiliki ketertarikan dengan Pesawat Aeromodelling dan sebagian besar menggunakan pesawat buatan pabrik, pihaknya berfikir bahwa ada peluang rejeki untuk membuat pesawat tersebut sendiri dengan meminimalisir anggaran atau bahkan dapat disesuaikan dengan anggaran yang diinginkan.

Di sela-sela pembuatan mainan Pesawat Aeromodelling, Mundi Prabowo menjelaskan dalam wawancara bahwa, dari minimal proses pengerjaan pembuatan pesawat hanya 2 jam namun bisa juga sampai memakan waktu hingga 7 hari karena tingkat kerumitan dan detail bentuk pesawat, bahkan jika jenis pesawat yang dibuat menyerupai bentuk aslinya (scale) dapat memakan waktu hingga 1 bulan bahkan lebih, karena pembuatan murni handmade atau tanpa menggunakan alat pabrikan seperti mesin cetak.

Adapun material atau bahan yang biasa digunakan dalam membuat airframe aeromodelling adalah polyfoam, styrofoam, balsa, EPO foam, fiberglass serta carbon fiber yang mana masing-masing bahan memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Sebenarnya, banyak sekali jenis material yang digunakan, “namun dalam pembuatan Pesawat Aeromodelling tersebut saya lebih mengutamakan menggunakan bahan yang terbuat dari polyfoam, hardfoam, cloroplash, fiberglass yang dibentuk menyerupai pesawat,” ungkapnya.

Sedangkan dari mesinnya pihaknya menggunakan mesin seperti mesin elektrik dengan bahan bakar baterai, mesin Nitro Engine tentunya dengan bahan bakar dari Nitro, dan mesin Gasolin Engine yang, menggunakan bahan bakar pertamax untuk dapat mengoptimalkan mesin, namun juga dapat menggunakan pertalite.

Ayah dua anak tersebut menghargai karya pesawat aeromodelling Kit (hanya body) dari harga Rp4 00.000,- hingga Rp3.000.000,- tergantung dari bahan pembuatan serta jenis pesawatnya, akan tetapi jika pihak pemesan menginginkan pesawat yang Ready To Fly (RTF) dihargai dari harga Rp2.000.000,- sampai harga yang tak terbatas sesuai dengan keingingan atau custom dari masing-masing konsumen menginginkan spesifikasi yang seperti apa.

Pesawat buatan Pemuda asal Temanggung tersebut mampu terbang dengan range frekwensi sampai 1km ketinggian 400ft atau 122m sesuai dari aturan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Dan jika menggunakan Elektrik Engine dapat bertahan dengan durasi terbang dari 7 sampai 30 menit, Sedangkan jika menggunakan Nitro Engine dan Gasolin Engine dapat terbang 15 sampai 30menit tergantung besar tangki bahan bakar yang digunakan. (MC TMG/Penulis, Foto: Agung, Editor:Ekape )

Recent Comments

Tinggalkan Komentar

Top