Iklan Layanan Masyarakat

Pembangunan Desa Perlu Perencanaan Masterplan Terpadu

Kamis, 11 Agu 2022 06:00:00 152

Keterangan Gambar : Bupati HM Al Khadziq memberikan sambutan pada Workshop Penyusunan Masterplan Infrastruktur Terpadu Desa, di Hotel Artos Magelang, Rabu (10/8/2022).


Temanggung, MediaCenter - Masterplan dalam perencanaan pembangunan desa sangat penting untuk diperhatikan oleh para kepala desa berikut elemen yang ada di dalamnya, termasuk peran perempuan guna mewujudkan desa inklusi. Pasalnya, keberadaan desa sebagai pemerintahan berbasis masyarakat dalam melakukan pembangunan di era saat ini perlu subyek pembangunan partisipatoris atau perencanaan bersifat bottom up planning. 

Hal tersebut mengemuka dalam  Workshop Penyusunan Masterplan Infrastruktur Terpadu Desa, di Hotel Artos Magelang, Rabu (10/8/2022). Acara dihadiri Bupati Temanggung HM Al Khadziq, Anggota DPR RI Sujadi,  para kepala desa perempuan dari Temanggung, Magelang, Purworejo. Selain itu, guru besar UGM Prof Wiendu Nurynati, sejumlah akademisi dari UGM Kuswardono, dan lain-lain. 

Guru besar UGM Wiendu Nuryanti mengatakan, mengapa saat desa perlu masterplan terpadu, sebab telah ada perubahan paradigma pembangunan desa. Pertama pemberian kewenangan berdasarkan azas rekognisi yang berarti pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan atau eksistensi desa, serta adanya subsidiaritas (penggunaan kewenangan skala lokal). 

"Pembangunan desa adalah membangun untuk semua, tidak boleh ada yang ketinggalan, maka perlu masterplan terpadu. Kita perlu melihat ke depan itu seperti apa, pembentuk agen perubahan masa depan, pertama adalah konsep hijau, konsep keberlanjutan (lestari), dan konsep gender atau keadilan dan kesetaraan peran perempuan," katanya.     

Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Bito Wikantosa mengatakan hal senada. Masterplan ini sangat penting untuk pembangunan berkiblat pada sustainable development goals (SDGs), dengan salah satu cara mewujudkan desa inklusi, menggerakkan sistem sosial, gotong-royong, desa ramah perempuan peduli anak. 

Dikatakan, desa inklusi merupakan kondisi kehidupan di desa yang setiap warganya bersedia secara sukarela untuk membuka ruang kehidupan dan penghidupan bagi semua warga desa uang diatur dan diurus secara terbuka, ramah dan meniadakan hambatan untuk bisa berpartisipasi secara setara, saling menghargai serta merangkul setiap perbedaan dalam pembangunan. 

Adapun suatu desa dikatakan ramah perempuan dan peduli anak, jika sudah mengintegrasikan perspektif gender dan hak anak ke dalam tata kelola penyelenggaraan pemerintahan desa, pembangunan desa, serta pembinaan dan pemberdayaan masyarakatnya. Hal itu pun musti dilakukan secara terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan.

"Tujuan-tujuan SDGs desa akan lebih mudah dicapai apabila tata kelola desa bersifat inklusif. Pembangunan desa dilaksanakan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan warga yang marginal dan rentan (miskin, perempuan, anak, penyandang disabilitas, manula, masyarakat adat, serta kelompok marginal rentan lainnya). Ada tiga jalan pemberdayaan masyarakat desa, yakni kebudayaan, demokrasi, dan jalan pembangunan," katanya. 

Bupati HM Al Khadziq menuturkan, bahwa workshop ini mengingatkan para kades akan pentingnya apa yang sesungguhnya disebut dengan masterplan desa. Perencanaan pembangunan tentunya tidak akan terlepas dari masterplan desa secara terpadu. Ini merupakan suatu hal baru, bagi desa atau ide-ide yang datang dari kota. Sebelumnya ide ramah gendernya mungkin belum seperti yang dibayangkan, dengan ada desa ramah perempuan dan peduli anak. 

Secara tradisional masyarakat desa menghormati perempuan dan memperlakukan anak sebenarnya sudah dengan baik, tapi dengan standar di sana, bukan dengan standar ide yang ada sekarang. Yakni, dalam kesetaraan gender dan perlindungan anak yang ada sekarang ini.

"Sebagaimana disampaikan para narasumber itu sangat penting, bagaimana agar masterplan desa tetap menjaga keasrian, kehijaunnya, kegotong-royongannya, kerukunan, kebudayaannya. Juga perlu ada transformasi knowledge yang diadopsi dari SDGs, seperti desa ramah perempuan dan peduli anak. Oleh karena itu, perencanaan masterplan desa menjadi sangat penting, tidak hanya para kades, tapi hendaknya disharing kepada para perangkat, serta tokoh-tokoh desa," tandasnya. (MC.TMG/ary;ekp;ysf)

Pencarian:

Komentar:

Top