Iklan Layanan Masyarakat

Mencicipi Kopi Sekelas Kafe di Los Pasar Kliwon Temanggung
Umum Sosial Kebudayaan Dan Pariwisata Pendidikan Ekonomi INSANIF PUSKOMKREF Sistem Informasi Desa (SID) PPID STATISTIK INFORMATIKA KOMUNIKASI KOMINFO Agenda OPD SEPUTAR TEMANGGUNG BERITA NASIONAL hoax terkini


Mencicipi Kopi Sekelas Kafe di Los Pasar Kliwon Temanggung admin 28 Feb 2020 123
Blog single photo

Temanggung-Mediacenter. Jika berkunjung ke Kota Temanggung, Jawa Tengah, sempatkanlah untuk mencicipi kopi di salah satu los berukuran 130 x 125 cm di Area Pasar Kliwon Temanggung.
Berbagai varian menu kopi dengan penyajian sekelas kafe ditawarkan di sini. Ada kopi tubruk, single origin, vietnam drip moccapot atau ekspresso,capucino, dan maciato kopi. Tak perlu kuatir mengenai harga. Meskipun menyediakan kopi dengan perlakuan seperti pada kafe modern, namun harganya cukup masuk akal. Kopi seduh ditawarkan dengan kisaran harga antara Rp 8.000 hingga Rp 25.000 per gelas. Sedangkan kopi bubuk dan roasted bean berbagai varian dijual dengan rentang harga antara Rp 10.000 hingga Rp 100.000 per ons.
Kebanyakan orang menyebutnya sebagai Kedai Kopi Lawoek, sesuai dengan merk kopi bubuk dan roasting kopi yang dijual di kedai ini.
Kedai Kopi Lawoek ini dikelola seorang warga Kecamatan Tlahap, Kabupaten Temanggung bernama Iis Siti Robiyatun (27 Th). Ia memberi nama Kopi Lawoek karena Lawoek merupakan nama panggilan akrab warga desa pada suaminya, Setyo Wuwuh (40 Th).
Kopi-kopi yang dijual merupakan hasil panen dari lahan kopi milik suaminya seluas sekitar dua hektare di Lereng Gunung Sindoro dengan ketinggian sekitar 1.800 meter dari permukaan laut (m.dpl) disisi Desa Tlahap, Kecamatan Kledung. Kopi dari jenis arabika Lini S dan arabika kate ditanam dengan tumpang sari tanaman tembakau.
Tiap kali musim panen, bulan Juni hingga Agustus, sebanyak 800 batang tanaman kopi milik Setyo Wuwuh ini menghasilkan kisaran 4-5 ton buah kopi dalam 8-10 kali petikan. Setelah diproses menjadi green bean hanya menghasilkan kisaran 5-6 kuintal.
Semula, menurut Setyo, dirinya hanya melayani pasokan biji kopi untuk sejumlah kafe di Nusa Tenggara Timur (NTT), Salatiga dan Bali sebanyak 25 kilogram per bulan, yakni 15 kg untuk arabika proses natural, dan 10 kg arabika fullwash. Sisanya ia jual dengan cara online.
Ide membuka kedai kopi di pasar datang dari isterinya, Iis. Pasangan ini memulainya dengan membeli los berukuran 130 cmx125 cm di Pasar Kliwon Temanggung. Iis lah yang kemudian mengelola kedai tersebut sejak awal tahun 2016 lalu.
“Semula saya masih ragu, sehingga hanya menjual Kopi Robusta saja yang harganya murah. Soalnya ini di pasar, jarang ada yang minat kopi mahal seperti arabika. Tapi ternyata perkembangannya bagus, sehingga bulan berikutnya saya memberanikan diri menjual Kopi Arabika dari hasil panen kebun sendiri dan diproses sendiri oleh suami saya,” tutur Iis, Kamis(27/2/2020).
Saat ini hasil panen kopi dari kebun kopi milik Setyo, sebagian dijual dalam bentuk green bean, roasting, dan bubuk secara online. Lalu sebagian lainnya dipasarkan di Kedai Kopi Lawoek.
Konsumen berdatangan dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Jakarta, Semarang, NTT, dan Bali. Kebanyakan mereka adalah penikmat kopi yang kebetulan memiliki saudara maupun teman di Temanggung. Atas permintaan mereka pula, mulai sekitar Bulan November 2016, Iis akhirnya menyediakan kopi seduh.
“Awalnya, saya hanya menyeduh kopi tubruk dan single origin saja. Lama-lama saya belajar dari internet dan study banding ke kafe-kafe untuk melajar menyeduh berbagai jenis kopi. Setiap hasil uji coba menu kopi dicicipi teman-teman dan keluarga saya,baru kemudian dijual,”kata Iis.
Iis kemudian mengupayakan pengadaan berbagai jenis peralatan seperti grinder atau alat penggiling kopi, termometer untuk mengatur suhu air yang dipanaskan, hingga peralatan seduh kopi lainnya. Seperti visittin dan vietnam drip. Cara menyeduhnya, ia pelajari secara autodidak.
Ia kemudian memperkenalkan berbagai menu kopi hasil eksperimennya pada para pembeli di pasar, bukan hal enteng bagi Iis. Kebanyakan pembeli yang rata-rata pedagang dan masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional itu tidak mengetahui menu-menu tersebut, sehingga Iis harus menjelaskannya secara mendetail pada mereka.
Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintis pasangan ini makin berkembang. Mereka kemudian membuka cabang kafe di kawasan sekitar Alun-Alun Temanggung yang beroperasi mulai dua tahun lalu. Cabang baru juga dirintis di kawasan Jalan Kartini Temanggung sejak sebulan terakhir. Untuk tiga cabang itu, mereka menyediakan sekitar dua ton kopi per tahun. Untuk Kopi Robusta dipasok dari petani lain. 
Omzet yang didapat dari bisnis kopi ini juga cukup tinggi. Pada musim liburan dari kafe cabang di Alun-Alun bisa didapat sekitar Rp 50 juta per bulan. Pada kondisi normal pendapatan dari cabang kafe ini rata-rata sekitar Rp 30 juta per bulan. Sedangkan pendapatan dari kafe yang ada di pasar mencapai kisaran antara Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta per bulan. 
Bogi 50(Th) salah seorang konsumen asal Temanggung mengaku kerap mampir minum Kopi Lawoek di area pasar. Ia menyukai kopi robusta yang diseduh secara kopi tubruk.
“Biasanya saya minum kopi sembari makan jenang yang dijual di samping kedai kopi,”kata Bogi. (MC.TMG/Tosiani;Ekape)

Recent Comments

Tinggalkan Komentar

Top