Iklan Layanan Masyarakat

Hantaran Pernikahan, Peluang Bisnis Menjanjikan di Temanggung
Umum Sosial Kebudayaan Dan Pariwisata Pendidikan Ekonomi INSANIF PUSKOMKREF Sistem Informasi Desa (SID) PPID STATISTIK INFORMATIKA KOMUNIKASI KOMINFO Agenda OPD SEPUTAR TEMANGGUNG BERITA NASIONAL


admin 08 Feb 2019 54
Blog single photo

Temanggung, MediaCenterUang tidak hanya digunakan untuk alat jual beli, namun uang juga menjadi lahan bisnis. Seni melipat uang dan membentuknya menjadi pola tertentu makin marak, biasanya hasil kreasi ini digunakan untuk mahar pernikahan.

Tidak hanya dari bahan uang saja, akan tetapi segala bahan seperti kain, baju, kerudung, mukena, dan bahan yang biasa digunakan untuk hantaran pengantin lainnya dapat disulap menjadi sebuah karya seni yang indah dan menawan untuk dapat diberikan bagi orang terkasih di hari yang paling bersejarah bagi kehidupan seseorang.

Sekilas melihat kerajinan tersebut hanya merupakan potongan-potongan kertas yang dibuat menyerupai bentuk tertentu, namun jika dilihat lebih detail semua kertas yang digunakan adalah uang asli. Keindahan dan kerapian dalam pelipatan menghasilkan karya seni yang mempesona inilah yang akan mendatangkan peluang bisnis bagi sebagian orang yang memahaminya.

Uang yang berbentuk dua dimensi dibuat sedemikian rupa hingga menjadi pola tertentu yang bahkan dapat menjadi tiga dimensi, tentu saja ini bukan pekerjaan yang mudah, akan tetapi membutuhkan ketelitian dan kesabaran bagi seorang pengrajin hantaran pengantin. Inilah pekerjaan yang setiap hari digeluti oleh Dhiyana Okki Paramitha.

Ibu dua anak ini telah bertahun-tahun menggeluti dunia seni melipat uang dan seni membuat hiasan hantaran pengantin. Dari hasil karya yang terkenal apik membuat gerainya di Desa Kauman Gang 1 Rt 01/Rw 1 Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung Jawa Tengah selalu diburu oleh calon pengantin yang ingin membuatkan hantaran. Dalam satu bulan ini saja misalnya, Okki harus menyelesaikan sebanyak 15 (lima belas) paket hantaran pengantin.

Untuk pesanan ini, Okki memberikan waktu satu bulan kepada setiap pelanggannya, namun pengerjaan yang ia lakukan sebenarnya hanya dua atau tiga hari. Pemberian jeda yang panjang dilakukan untuk menghindari penumpukan pekerjaan.

Dalam membuat hantaran ini, Okki sangat berhati-hati untuk tidak meninggalkan bekas kotoran. Tidak heran jika warga Desa Kedu Kabupaten Temanggung ini harus mengecek hasil pekerjaannya hingga beberapa kali setelah jadi.

Okki seringkali harus menolak pekerjaan serupa apabila jumlah pesanan menumpuk. “Saya khawatir apabila tetap menerima pekerjaan justru mengecewakan pelanggannya karena tidak tepat waktu, bahkan tidak sesuai dengan jadwal tanggal yang sudah disepakati untuk menjadi hantaran jadi,” terangya saat ditemui Tim Media Center Temanggung, disela kesibukannya membuat hantaran pengantin, Kamis (07/02).

Ketelatenan dan kedisiplinan yang dilakukan Okki menekuni bisnis ini telah mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, hal ini bisa dijadikan contoh kreativitas yang bernilai ekonomi. (MC TMG/Penulis, Foto: Agung, Editor: Ekape )

 

Recent Comments

Tinggalkan Komentar

Top