Iklan Layanan Masyarakat

1000 Obor Hiasi Kemeriahan Peringatan Malam Selikuran di Sumbing
Umum Sosial Kebudayaan Dan Pariwisata Pendidikan Ekonomi Wisata Alam Wisata Kuliner INSANIF PUSKOMKREF Sistem Informasi Desa (SID) PPID STATISTIK INFORMATIKA KOMUNIKASI KOMINFO Agenda OPD SEPUTAR TEMANGGUNG BERITA NASIONAL


1000 Obor Hiasi Kemeriahan Peringatan Malam Selikuran di Sumbing admin 06 Jun 2018 141
Blog single photo

Temanggung, MediaCenter – Saat bulan Ramadhan, masyarakat di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, memiliki banyak tradisi. Salah satu tradisi turun-temurun yang masih dilestarikan adalah malam selikuran atau prosesi menyambut malam ke-21 bulan Ramadhan. Tradisi ini ditandai dengan melakukan pendakian di Gunung Sumbing oleh masyarakat sekitar.

Pendaki bukan saja berasal dari daerah Temanggung akan tetapi banyak diantaranya yang berasal dari luar daerah seperti, Jakarta, Bandung, Salatiga, Solo, dan masih banyak lagi. 

Selasa (5/6), tradisi naik gunung pada bulan Ramadhan, tepatnya memasuki puasa hari ke-21 sudah turun temurun dari leluhur di semua wilayah lereng Gunung Sumbing (Magelang, Temanggung, Wonosobo) dan juga di gunung-gunung lainnya, sebagai peringatan Nuzulul Qur'an dan juga diyakini sebagai hari Kyai Makukuhan bermunajah untuk perkembangan Islam di lereng Sumbing.

Untuk menyambut hari ke-21 tersebut, warga sekitar sengaja menyiapkan 1000 obor sebagai penerang jalan dan menambah hiasan alam yang dipasang dari basecamp menuju pos pertama Gunung Sumbing. Selain itu warga memasang obor tersebut bertujuan menyemarakan kemeriahan tradisi yang tengah ada di lereng Gunung Sumbing, khususnya di Cepit Pagergunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

“Diharapkan dengan adanya pemasangan 1000 obor ini dapat meningkatkan wisatawan baik untuk mendaki ataupun hanya singgah menyaksikan keindahan alam dan keramahan penduduk sekitar,” papar Kepala Desa Desa Cepit, Sukarman.

Sedangkan dalam sejarah, di sebelah kawah terdapat petilasan Kyai Makukuhan yang merupakan utusan Wali Songo untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Kedu atau lereng Sumbing. Mengapa dimakamkan di gunung tidak di daratan rendah pada umumnya? karena beliau mempunyai pemikiran bijak dan adil waktu itu agar tidak menjadi rebutan semua muridnya.  Sehingga beliau dimakamkan di sekitar puncak Gunung Sumbing agar semua murid dan keturunannya dari berbagai penjuru atau wilayah lereng Sumbing dapat berkunjung atau ziarah di tempat yang menjadi titik temu semua jalur di wilayah Gunung Sumbing. 

Nilai lain dari tradisi selikuran yang beliau wariskan adalah tradisi ini menjadi momen pemersatu semua warga masyarakat agar tetap menjaga dan melestarikan terciptanya keharmonisan antara alam dan manusia, serta agar dapat mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan “berziarahlah kalian ke makam, karena ziarah makam mengingatkan kalian akan kematian” (HR. An Nasa’i). (MC TMG/Penulis, Foto: Agung ; Editor : Ekape)

Recent Comments

Tinggalkan Komentar

Top